Storyteller

The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fable
Reading time
7 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle cover

Chasing her lost handkerchiefs up a hillside, Lucie finds a tiny door into the hill — and the strangest, prickliest washerwoman imaginable, doing laundry for all the animals of the valley.

Once upon a time there was a little girl called Lucie, who lived at a farm called Little-town. She was a good little girl—only she was always losing her pocket-handkerchiefs!

Dahulu kala hiduplah seorang gadis kecil bernama Lucie, yang tinggal di sebuah peternakan bernama Little-town. Ia anak yang baik—hanya saja ia selalu kehilangan saputangan sakunya!

One day little Lucie came into the farm-yard crying—oh, she did cry so! "I've lost my pocket-handkin! Three handkins and a pinny! Have _you_ seen them, Tabby Kitten?"

Suatu hari Lucie kecil datang ke halaman peternakan sambil menangis—oh, ia benar-benar menangis! "Saputangan sakuku hilang! Tiga saputangan dan satu celemek! Apakah _kau_ melihatnya, Kucing Tabby?"

The Kitten went on washing her white paws; so Lucie asked a speckled hen—

Kucing itu terus saja mencuci kaki putihnya; jadi Lucie bertanya pada seekor ayam betina berbintik-bintik—

"Sally Henny-penny, have _you_ found three pocket-handkins?"

"Sally Henny-penny, apakah _kau_ menemukan tiga saputangan saku?"

But the speckled hen ran into a barn, clucking—

Tetapi ayam berbintik itu lari masuk ke kandang, sambil berkotek—

"I go barefoot, barefoot, barefoot!"

"Aku bertelanjang kaki, bertelanjang kaki, bertelanjang kaki!"

And then Lucie asked Cock Robin sitting on a twig.

Lalu Lucie bertanya pada Cock Robin yang bertengger di sebuah ranting.

Cock Robin looked sideways at Lucie with his bright black eye, and he flew over a stile and away.

Cock Robin melirik ke arah Lucie dengan matanya yang hitam berkilau, lalu ia terbang melewati sebuah tangga pagar dan menghilang.

Lucie climbed upon the stile and looked up at the hill behind Little-town—a hill that goes up—up—into the clouds as though it had no top!

Lucie memanjat tangga pagar itu dan menatap ke arah bukit di belakang Little-town—sebuah bukit yang menjulang—naik—naik—ke awan seolah tak berpuncak!

And a great way up the hill-side she thought she saw some white things spread upon the grass.

Dan jauh di atas lereng bukit itu ia mengira melihat sesuatu yang berwarna putih terhampar di atas rumput.

Lucie scrambled up the hill as fast as her stout legs would carry her; she ran along a steep path-way—up and up—until Little-town was right away down below—she could have dropped a pebble down the chimney!

Lucie mendaki bukit itu secepat kakinya yang kokoh bisa membawanya; ia berlari menyusuri jalan setapak yang curam—naik dan naik—sampai Little-town sudah jauh di bawah sana—ia bahkan bisa menjatuhkan sebutir kerikil tepat ke dalam cerobong asapnya!

Presently she came to a spring, bubbling out from the hill-side.

Tak lama kemudian ia sampai di sebuah mata air, yang menggelembung keluar dari sisi bukit.

Some one had stood a tin can upon a stone to catch the water—but the water was already running over, for the can was no bigger than an egg-cup! And where the sand upon the path was wet—there were foot-marks of a _very_ small person.

Seseorang telah meletakkan sebuah kaleng timah di atas batu untuk menampung air—tapi airnya sudah meluap, sebab kalengnya tidak lebih besar dari cangkir telur! Dan di mana pasir di jalan setapak itu basah—ada bekas jejak kaki seseorang yang _sangat_ kecil.

Lucie ran on, and on.

Lucie terus berlari, dan berlari.

The path ended under a big rock. The grass was short and green, and there were clothes—props cut from bracken stems, with lines of plaited rushes, and a heap of tiny clothes pins—but no pocket-handkerchiefs!

Jalan setapak itu berakhir di bawah sebuah batu besar. Rumputnya pendek dan hijau, dan ada tiang-tiang jemuran yang dipotong dari batang pakis, dengan tali-tali dari anyaman gelagah, serta setumpuk jepitan jemuran kecil—tapi tak ada saputangan saku sama sekali!

But there was something else—a door! straight into the hill; and inside it some one was singing—

Tapi ada sesuatu yang lain—sebuah pintu! langsung menuju ke dalam bukit itu; dan di dalamnya seseorang sedang bernyanyi—

"Lily-white and clean, oh! With little frills between, oh! Smooth and hot—red rusty spot Never here be seen, oh!"

"Putih bersih dan wangi, oh! Dengan renda-renda kecil di sela-selanya, oh! Halus dan hangat—noda merah berkarat Jangan pernah terlihat di sini, oh!"

Lucie, knocked—once—twice, and interrupted the song. A little frightened voice called out "Who's that?"

Lucie mengetuk—sekali—dua kali, dan menghentikan nyanyian itu. Sebuah suara kecil yang ketakutan berseru "Siapa itu?"

Lucie opened the door: and what do you think there was inside the hill?—a nice clean kitchen with a flagged floor and wooden beams—just like any other farm kitchen. Only the ceiling was so low that Lucie's head nearly touched it; and the pots and pans were small, and so was everything there.

Lucie membuka pintu itu: dan coba tebak apa yang ada di dalam bukit itu?—sebuah dapur bersih yang nyaman dengan lantai berlantai batu dan balok-balok kayu—persis seperti dapur peternakan mana pun. Hanya saja langit-langitnya begitu rendah sehingga kepala Lucie hampir menyentuhnya; dan panci-panci serta wajan-wajannya kecil, begitu pula segala sesuatu di sana.

There was a nice hot singey smell; and at the table, with an iron in her hand stood a very stout short person staring anxiously at Lucie.

Ada bau hangat yang harum seperti bau setrikaan; dan di meja, dengan sebuah setrika di tangannya, berdiri seseorang yang gemuk dan pendek, menatap Lucie dengan cemas.

Her print gown was tucked up, and she was wearing a large apron over her striped petticoat. Her little black nose went sniffle, sniffle, snuffle, and her eyes went twinkle, twinkle; and underneath her cap—where Lucie had yellow curls—that little person had PRICKLES!

Gaun bercorak bunganya terselip ke atas, dan ia mengenakan celemek besar di atas rok dalamnya yang bergaris-garis. Hidung kecilnya yang hitam mengendus-endus, mengendus-endus, dan matanya berkelip-kelip, berkelip-kelip; dan di bawah topinya—tempat yang seharusnya ada rambut ikal kuning pada Lucie—makhluk kecil itu ternyata memiliki DURI-DURI!

"Who are you?" said Lucie. "Have you seen my pocket-handkins?"

"Siapa kau?" tanya Lucie. "Apakah kau melihat saputangan sakuku?"

The little person made a bob-curtsey—"Oh, yes, if you please'm; my name is Mrs. Tiggy-winkle; oh, yes if you please'm, I'm an excellent clear-starcher!" And she took something out of a clothes-basket, and spread it on the ironing-blanket.

Makhluk kecil itu membungkuk hormat—"Oh, iya, permisi Nyonya; namaku Nyonya Tiggy-winkle; oh, iya, permisi Nyonya, aku tukang setrika yang sangat andal!" Dan ia mengambil sesuatu dari keranjang cucian, dan menghamparkannya di atas selimut setrika.

"What's that thing?" said Lucie—"that's not my pocket-handkin?"

"Benda apa itu?" tanya Lucie—"itu bukan saputanganku, kan?"

"Oh no, if you please'm; that's a little scarlet waist-coat belonging to Cock Robin!"

"Oh bukan, permisi Nyonya; itu rompi merah kecil milik Cock Robin!"

And she ironed it and folded it, and put it on one side.

Lalu ia menyetrikanya dan melipatnya, dan menaruhnya di satu sisi.

Then she took something else off a clothes-horse—

Kemudian ia mengambil sesuatu yang lain dari rak jemuran—

"That isn't my pinny?" said Lucie.

"Itu bukan celemekku, kan?" tanya Lucie.

"Oh no, if you please'm; that's a damask table-cloth belonging to Jenny Wren; look how it's stained with currant wine! It's very bad to wash!" said Mrs. Tiggy-winkle.

"Oh bukan, permisi Nyonya; itu taplak meja damask milik Jenny Wren; lihat betapa ternodanya oleh anggur kismis! Itu sangat sulit dicuci!" kata Nyonya Tiggy-winkle.

Mrs. Tiggy-winkle's nose went sniffle, sniffle, snuffle, and her eyes went twinkle, twinkle; and she fetched another hot iron from the fire.

Hidung Nyonya Tiggy-winkle mengendus-endus, mengendus-endus, dan matanya berkelip-kelip, berkelip-kelip; dan ia mengambil setrika panas lain dari perapian.

"There's one of my pocket-handkins!" cried Lucie—"and there's my pinny!"

"Itu salah satu saputangan sakuku!" seru Lucie—"dan itu celemekku!"

Mrs. Tiggy-winkle ironed it, and goffered it, and shook out the frills.

Nyonya Tiggy-winkle menyetrikanya, mengeritingnya, dan mengibaskan renda-rendanya.

"Oh that _is_ lovely!" said Lucie.

"Oh itu _benar-benar_ indah!" kata Lucie.

"And what are those long yellow things with fingers like gloves?"

"Dan apa itu benda-benda kuning panjang dengan jari-jari seperti sarung tangan?"

"Oh, that's a pair of stockings belonging to Sally Henny-penny—look how she's worn the heels out with scratching in the yard! She'll very soon go barefoot!" said Mrs. Tiggy-winkle.

"Oh, itu sepasang kaus kaki milik Sally Henny-penny—lihat betapa tumitnya sudah aus karena mengais-ngais di halaman! Ia akan segera bertelanjang kaki!" kata Nyonya Tiggy-winkle.

"Why, there's another handkersniff—but it isn't mine; it's red?"

"Lho, ada satu lagi saputangan—tapi itu bukan punyaku; itu berwarna merah?"

"Oh no, if you please'm; that one belongs to old Mrs. Rabbit; and it _did_ so smell of onions! I've had to wash it separately, I can't get out the smell."

"Oh bukan, permisi Nyonya; itu milik Nyonya Kelinci tua; dan baunya _benar-benar_ seperti bawang! Aku terpaksa mencucinya terpisah, aku tidak bisa menghilangkan baunya."

"There's another one of mine," said Lucie.

"Itu satu lagi punyaku," kata Lucie.

"What are those funny little white things?"

"Apa benda-benda putih kecil yang lucu itu?"

"That's a pair of mittens belonging to Tabby Kitten; I only have to iron them; she washes them herself."

"Itu sepasang sarung tangan rajut milik Kucing Tabby; aku hanya perlu menyetrikanya; ia mencucinya sendiri."

"There's my last pocket-handkin!" said Lucie.

"Itu saputangan sakuku yang terakhir!" kata Lucie.

"And what are you dipping into the basin of starch?"

"Dan apa yang sedang kau celupkan ke dalam mangkuk kanji itu?"

"They're little dicky shirt-fronts belonging to Tom Titmouse—most terrible particular!" said Mrs. Tiggy-winkle. "Now I've finished my ironing; I'm going to air some clothes."

"Itu kerah-kerah kemeja kecil milik Tom Titmouse—dia sangat rewel soal itu!" kata Nyonya Tiggy-winkle. "Sekarang setrikaanku sudah selesai; aku akan menjemur beberapa pakaian."

"What are these dear soft fluffy things?" said Lucie.

"Apa benda-benda lembut dan berbulu ini?" tanya Lucie.

"Oh those are woolly coats belonging to the little lambs at Skelghyl."

"Oh itu mantel-mantel bulu domba milik anak-anak domba kecil di Skelghyl."

"Will their jackets take off?" asked Lucie.

"Apakah jaket-jaket mereka bisa dilepas?" tanya Lucie.

"Oh yes, if you please'm; look at the sheep-mark on the shoulder. And here's one marked for Gatesgarth, and three that come from Little-town. They're _always_ marked at washing!" said Mrs. Tiggy-winkle.

"Oh iya, permisi Nyonya; lihat tanda domba di bahunya. Dan yang ini ditandai untuk Gatesgarth, dan tiga lainnya datang dari Little-town. Mereka _selalu_ ditandai saat dicuci!" kata Nyonya Tiggy-winkle.

And she hung up all sorts and sizes of clothes—small brown coats of mice; and one velvety black moleskin waist-coat; and a red tailcoat with no tail belonging to Squirrel Nutkin; and a very much shrunk blue jacket belonging to Peter Rabbit; and a petticoat, not marked, that had gone lost in the washing—and at last the basket was empty!

Dan ia menggantungkan berbagai jenis dan ukuran pakaian—mantel-mantel cokelat kecil milik tikus-tikus; dan satu rompi beludru hitam dari kulit tikus mondok; dan sebuah jas ekor merah tanpa ekor milik Squirrel Nutkin; dan sebuah jaket biru yang sudah sangat menyusut milik Peter Rabbit; dan sebuah rok dalam, tanpa tanda, yang hilang saat pencucian—dan akhirnya keranjang itu pun kosong!

"Then Mrs. Tiggy-winkle made tea—a cup for herself and a cup for Lucie. They sat before the fire on a bench and looked sideways at one another. Mrs. Tiggy-winkle's hand, holding the tea-cup, was very very brown, and very very wrinkly with the soap-suds; and all through her gown and her cap, there were _hair-pins_ sticking wrong end out; so that Lucie didn't like to sit too near her.

Lalu Nyonya Tiggy-winkle membuat teh—satu cangkir untuk dirinya sendiri dan satu cangkir untuk Lucie. Mereka duduk di depan perapian di sebuah bangku dan saling melirik satu sama lain. Tangan Nyonya Tiggy-winkle, yang memegang cangkir teh, sangat sekali cokelat, dan sangat sekali keriput karena busa sabun; dan di sepanjang gaun dan topinya, ada _jepit-jepit rambut_ yang mencuat terbalik; sehingga Lucie tidak suka duduk terlalu dekat dengannya.

When they had finished tea, they tied up the clothes in bundles; and Lucie's pocket-handkerchiefs were folded up inside her clean pinny, and fastened with a silver safety-pin.

Setelah mereka selesai minum teh, mereka mengikat pakaian-pakaian itu menjadi beberapa bungkusan; dan saputangan-saputangan saku Lucie dilipat di dalam celemeknya yang bersih, dan disematkan dengan peniti pengaman perak.

And then they made up the fire with turf, and came out and locked the door, and hid the key under the door-sill.

Dan kemudian mereka menyalakan api dengan gambut, lalu keluar dan mengunci pintu, dan menyembunyikan kuncinya di bawah ambang pintu.

Then away down the hill trotted Lucie and Mrs. Tiggy-winkle with the bundles of clothes!

Lalu menuruni bukit, berlari-lari kecillah Lucie dan Nyonya Tiggy-winkle dengan bungkusan-bungkusan pakaian itu!

All the way down the path little animals came out of the fern to meet them; the very first that they met were Peter Rabbit and Benjamin Bunny!

Sepanjang jalan menuruni bukit, binatang-binatang kecil keluar dari semak pakis untuk menyambut mereka; yang pertama mereka temui adalah Peter Rabbit dan Benjamin Bunny!

And she gave them their nice clean clothes; and all the little animals and birds were so very much obliged to dear Mrs. Tiggy-winkle.

Dan ia memberi mereka pakaian bersih mereka yang rapi; dan semua binatang serta burung kecil itu sangat berterima kasih kepada Nyonya Tiggy-winkle yang baik hati.

So that at the bottom of the hill when they came to the stile, there was nothing left to carry except Lucie's one little bundle.

Sehingga ketika mereka tiba di kaki bukit dan sampai di tangga pagar itu, tidak ada lagi yang perlu dibawa selain satu bungkusan kecil milik Lucie.

Lucie scrambled up the stile with the bundle in her hand; and then she turned to say "Good-night," and to thank the washer-woman—But what a _very_ odd thing! Mrs. Tiggy-winkle had not waited either for thanks or for the washing bill!

Lucie memanjat tangga pagar itu dengan bungkusan di tangannya; lalu ia berbalik untuk mengucapkan "Selamat malam," dan berterima kasih kepada tukang cuci itu—Tapi alangkah _sangat_ anehnya! Nyonya Tiggy-winkle tidak menunggu baik untuk diberi ucapan terima kasih maupun untuk tagihan cuciannya!

She was running running running up the hill—and where was her white frilled cap? and her shawl? and her gown—and her petticoat?

Ia berlari, berlari, berlari menaiki bukit—dan ke mana perginya topi berendanya yang putih itu? dan syalnya? dan gaunnya—dan rok dalamnya?

And _how_ small she had grown—and _how_ brown—and covered with PRICKLES!

Dan _betapa_ kecilnya ia menjadi—dan _betapa_ cokelatnya—dan tertutup DURI-DURI!

Why! Mrs. Tiggy-winkle was nothing but a HEDGEHOG.

Lho! Nyonya Tiggy-winkle ternyata tak lain adalah seekor LANDAK.

(Now some people say that little Lucie had been asleep upon the stile—but then how could she have found three clean pocket-handkins and a pinny, pinned with a silver safety-pin?

(Sekarang ada yang bilang bahwa Lucie kecil sebenarnya tertidur di atas tangga pagar itu—tapi kalau begitu bagaimana mungkin ia bisa menemukan tiga saputangan saku bersih dan satu celemek, yang disematkan dengan peniti pengaman perak?

And besides—_I_ have seen that door into the back of the hill called Cat Bells—and besides _I_ am very well acquainted with dear Mrs. Tiggy-winkle!)

Dan lagipula—_aku_ sudah pernah melihat pintu ke dalam bukit itu yang disebut Cat Bells—dan lagipula _aku_ sangat mengenal baik Nyonya Tiggy-winkle yang baik hati!)

Open in the Storyteller app Get it on Google Play