The Toll-Gatherer's Day
A free C1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A quiet old toll-gatherer watches an entire summer day drift across his bridge — newlyweds, peddlers, a grieving husband — each traveler a fleeting glimpse into a different life.
TWICE TOLD TALES
TWICE TOLD TALES
THE TOLL-GATHERER'S DAY
THE TOLL-GATHERER'S DAY
A SKETCH OF TRANSITORY LIFE
A SKETCH OF TRANSITORY LIFE
By Nathaniel Hawthorne
By Nathaniel Hawthorne
Methinks, for a person whose instinct bids him rather to pore over the current of life, than to plunge into its tumultuous waves, no undesirable retreat were a toll-house beside some thronged thoroughfare of the land. In youth, perhaps, it is good for the observer to run about the earth, to leave the track of his footsteps far and wide,—to mingle himself with the action of numberless vicissitudes,—and, finally, in some calm solitude, to feed a musing spirit on all that he has seen and felt.
Menurutku, bagi seseorang yang nalurinya lebih condong untuk merenungi arus kehidupan ketimbang terjun ke dalam gelombangnya yang bergejolak, tak ada tempat berlindung yang tak diinginkan selain sebuah pos tol di tepi jalan raya yang ramai di negeri ini. Di masa muda, mungkin baik bagi seorang pengamat untuk berkelana ke seluruh penjuru bumi, meninggalkan jejak langkahnya jauh dan luas—untuk membaurkan dirinya dengan gejolak berbagai peristiwa tak terhitung—dan, akhirnya, dalam suatu kesunyian yang tenang, memberi makan jiwa yang perenung dengan segala yang telah ia lihat dan rasakan.
But there are natures too indolent, or too sensitive, to endure the dust, the sunshine, or the rain, the turmoil of moral and physical elements, to which all the wayfarers of the world expose themselves. For such a man, how pleasant a miracle, could life be made to roll its variegated length by the threshold of his own hermitage, and the great globe, as it were, perform its revolutions and shift its thousand scenes before his eyes without whirling him onward in its course.
Namun ada pula watak-watak yang terlalu malas, atau terlalu peka, untuk tahan terhadap debu, terik matahari, atau hujan, gejolak unsur-unsur moral dan fisik, yang membuat semua pengembara di dunia ini terpapar. Bagi orang semacam itu, betapa menyenangkannya sebuah keajaiban, andai kehidupan bisa dibuat menggelindingkan panjangnya yang beraneka warna di ambang pertapaannya sendiri, dan bumi yang besar ini, seolah-olah, melakukan revolusinya dan menggeser seribu panggungnya di depan matanya tanpa menyeretnya maju dalam perjalanannya.
If any mortal be favored with a lot analogous to this, it is the toll-gatherer. So, at least, have I often fancied, while lounging on a bench at the door of a small square edifice, which stands between shore and shore in the midst of a long bridge. Beneath the timbers ebbs and flows an arm of the sea; while above, like the life-blood through a great artery, the travel of the north and east is continually throbbing. Sitting on the aforesaid bench, I amuse myself with a conception, illustrated by numerous pencil-sketches in the air, of the toll-gatherer's day.
Jika ada manusia yang diberkati dengan nasib yang serupa dengan ini, dialah si penjaga tol. Begitu, setidaknya, sering kubayangkan, sambil bersandar di sebuah bangku di depan pintu sebuah bangunan kecil berbentuk persegi, yang berdiri di antara pantai dan pantai di tengah sebuah jembatan panjang. Di bawah balok-balok kayunya, pasang surut mengalir sebuah lengan laut; sementara di atasnya, seperti darah yang mengalir melalui sebuah nadi besar, lalu lintas dari utara dan timur terus berdenyut. Duduk di bangku yang disebutkan tadi, aku menghibur diri dengan sebuah gagasan, digambarkan dengan berbagai sketsa pensil di udara, tentang hari seorang penjaga tol.
In the morning—dim, gray, dewy summer's morn the distant roll of ponderous wheels begins to mingle with my old friend's slumbers, creaking more and more harshly through the midst of his dream, and gradually replacing it with realities. Hardly conscious of the change from sleep to wakefulness, he finds himself partly clad and throwing wide the toll-gates for the passage of a fragrant load of hay. The timbers groan beneath the slow-revolving wheels; one sturdy yeoman stalks beside the oxen, and, peering from the summit of the hay, by the glimmer of the half-extinguished lantern over the toll-house, is seen the drowsy visage of his comrade, who has enjoyed a nap some ten miles long.
Di pagi hari—pagi musim panas yang samar, kelabu, dan berembun, gemuruh roda-roda berat yang jauh mulai bercampur dengan tidur lelap sahabat lamaku, berderit semakin keras menembus tengah mimpinya, dan berangsur-angsur menggantinya dengan kenyataan. Hampir tak sadar akan pergantian dari tidur menuju terjaga, ia mendapati dirinya sudah setengah berpakaian dan membuka lebar-lebar gerbang tol untuk lewatnya sebuah muatan jerami yang harum. Balok-balok kayu itu mengerang di bawah roda-roda yang berputar lambat; seorang petani yang kekar berjalan di samping lembu-lembunya, dan, mengintip dari puncak tumpukan jerami, oleh cahaya lentera yang hampir padam di atas pos tol itu, tampak wajah mengantuk kawannya, yang telah menikmati tidur siang sepanjang kira-kira sepuluh mil.
The toll is paid,—creak, creak, again go the wheels, and the huge haymow vanishes into the morning mist. As yet, nature is but half awake, and familiar objects appear visionary. But yonder, dashing from the shore with a rattling thunder of the wheels and a confused clatter of hoofs, comes the never-tiring mail, which has hurried onward at the same headlong, restless rate, all through the quiet night. The bridge resounds in one continued peal as the coach rolls on without a pause, merely affording the toll-gatherer a glimpse at the sleepy passengers, who now bestir their torpid limbs, and snuff a cordial in the briny air.
Tol pun dibayar—derit, derit, roda-roda itu bergerak lagi, dan tumpukan jerami raksasa itu menghilang ke dalam kabut pagi. Sejauh ini, alam baru setengah terjaga, dan benda-benda yang akrab tampak seperti bayangan. Namun di sana, melaju dari tepi pantai dengan derap guntur roda yang berderak dan derap kaki kuda yang riuh, datanglah kereta pos yang tak pernah lelah, yang telah bergegas maju dengan kecepatan yang sama tanpa henti sepanjang malam yang tenang. Jembatan itu bergema dalam satu dentang panjang ketika kereta itu terus melaju tanpa henti, hanya memberikan si penjaga tol sekilas pandang pada penumpang-penumpang yang mengantuk, yang kini menggerakkan anggota tubuh mereka yang kaku, dan menghirup penyegar dari udara asin itu.
The morn breathes upon them and blushes, and they forget how wearily the darkness toiled away. And behold now the fervid day, in his bright chariot, glittering aslant over the waves, nor scorning to throw a tribute of his golden beams on the toll-gatherer's little hermitage. The old man looks eastward, and (for he is a moralizer) frames a simile of the stage coach and the sun. While the world is rousing itself, we may glance slightly at the scene of our sketch.
Pagi menghembuskan napas kepada mereka dan merona, dan mereka melupakan betapa letihnya kegelapan itu berlalu. Dan lihatlah kini hari yang membara, dalam kereta kudanya yang cemerlang, berkilauan miring di atas ombak, bahkan tak sungkan melemparkan upeti sinar keemasannya pada pertapaan kecil sang penjaga tol. Orang tua itu memandang ke timur, dan (sebab ia seorang perenung moral) menyusun sebuah perumpamaan tentang kereta pos dan matahari. Sementara dunia sedang bangkit dari tidurnya, kita bisa sekilas melirik pada pemandangan sketsa kita.
It sits above the bosom of the broad flood, a spot not of earth, but in the midst of waters, which rush with a murmuring sound among the massive beams beneath. Over the door is a weather-beaten board, inscribed with the rates of toll, in letters so nearly effaced that the gilding of the sunshine can hardly make them legible. Beneath the window is a wooden bench, on which a long succession of weary wayfarers have reposed themselves. Peeping within doors, we perceive the whitewashed walls bedecked with sundry lithographic prints and advertisements of various import, and the immense showbill of a wandering caravan.
Ia duduk di atas dada banjir yang luas, sebuah tempat bukan di daratan, melainkan di tengah air, yang mengalir dengan suara gemericik di antara balok-balok besar di bawahnya. Di atas pintu ada sebuah papan yang lapuk dimakan cuaca, bertuliskan tarif tol, dalam huruf-huruf yang hampir terhapus sehingga sinar keemasan matahari nyaris tak bisa membuatnya terbaca. Di bawah jendela ada sebuah bangku kayu, tempat rentetan panjang para pengembara yang lelah pernah beristirahat. Mengintip ke dalam pintu, kita melihat dinding-dinding berkapur putih dihiasi berbagai gambar litografi dan iklan-iklan bermacam-macam maksud, serta papan pengumuman besar sebuah kafilah keliling.
And there sits our good old toll-gatherer, glorified by the early sunbeams. He is a man, as his aspect may announce, of quiet soul, and thoughtful, shrewd, yet simple mind, who, of the wisdom which the passing world scatters along the wayside, has gathered a reasonable store.
Dan di sanalah duduk sahabat penjaga tol tua kita yang baik hati, diselimuti cahaya matahari pagi. Ia seorang pria, seperti tampak dari perawakannya, berjiwa tenang, dan berpikiran cermat, cerdik, namun sederhana, yang, dari kebijaksanaan yang ditaburkan dunia yang berlalu-lalang di sepanjang jalan, telah mengumpulkan simpanan yang cukup memadai.
Now the sun smiles upon the landscape, and earth smiles back again upon the sky. Frequent, now, are the travellers. The toll-gatherer's practised ear can distinguish the weight of every vehicle, the number of its wheels, and how many horses beat the resounding timbers with their iron tramp. Here, in a substantial family chaise, setting forth betimes to take advantage of the dewy road, come a gentleman and his wife, with their rosy-cheeked little girl sitting gladsomely between them. The bottom of the chaise is heaped with multifarious bandboxes and carpet-bags, and beneath the axle swings a leathern trunk dusty with yesterday's journey.
Kini matahari tersenyum pada pemandangan itu, dan bumi membalas tersenyum kepada langit. Kini, para pengembara semakin sering lewat. Telinga terlatih si penjaga tol bisa membedakan berat setiap kendaraan, jumlah rodanya, dan berapa banyak kuda yang menghentak balok-balok kayu yang bergema dengan tapak besi mereka. Di sini, dalam sebuah kereta keluarga yang kokoh, berangkat lebih awal untuk memanfaatkan jalan yang masih berembun, datanglah seorang pria dan istrinya, dengan anak perempuan mereka yang berpipi merah muda duduk riang di antara mereka. Bagian bawah kereta itu ditumpuki berbagai kotak topi dan tas karpet, dan di bawah as rodanya tergantung sebuah koper kulit yang berdebu oleh perjalanan kemarin.
Next appears a four-wheeled carryall, peopled with a round half-dozen of pretty girls, all drawn by a single horse, and driven by a single gentleman. Luckless wight, doomed, through a whole summer day, to be the butt of mirth and mischief among the frolicsome maidens! Bolt upright in a sulky rides a thin, sour-visaged man, who, as he pays his toll, hands the toll-gatherer a printed card to stick upon the wall. The vinegar-faced traveller proves to be a manufacturer of pickles.
Berikutnya muncul sebuah kereta beroda empat, dipenuhi sekitar setengah lusin gadis-gadis cantik, semuanya ditarik oleh seekor kuda tunggal, dan dikendalikan oleh seorang pria tunggal. Pria malang itu, ditakdirkan, sepanjang hari musim panas itu, menjadi sasaran gurauan dan kenakalan di antara para gadis yang riang! Duduk tegak dalam sebuah kereta kecil beroda dua adalah seorang pria kurus berwajah masam, yang, saat membayar tolnya, menyerahkan kepada penjaga tol sebuah kartu cetak untuk ditempel di dinding. Pengembara berwajah cuka itu ternyata seorang pembuat acar.
Now paces slowly from timber to timber a horseman clad in black, with a meditative brow, as of one who, whithersoever his steed might bear him, would still journey through a mist of brooding thought. He is a country preacher, going to labor at a protracted meeting. The next object passing townward is a butcher's cart, canopied with its arch of snow-white cotton. Behind comes a "sauceman," driving a wagon full of new potatoes, green ears of corn, beets, carrots, turnips, and summer-squashes.
Kini melangkah perlahan dari balok ke balok seorang penunggang kuda berpakaian hitam, dengan alis yang termenung, seperti seseorang yang, ke mana pun kudanya membawanya, akan tetap melakukan perjalanan melalui kabut pikiran yang merenung. Ia seorang pendeta desa, pergi untuk berkarya di sebuah pertemuan yang berkepanjangan. Objek berikutnya yang lewat menuju kota adalah sebuah gerobak jagal, beratapkan lengkungan kain katun putih salju. Di belakangnya datang seorang "penjual sayur," mengendarai sebuah gerobak penuh kentang baru, jagung muda berwarna hijau, bit, wortel, lobak, dan labu musim panas.
See there, a man trundling a wheelbarrow-load of lobsters. And now a milk-cart rattles briskly onward, covered with green canvas, and conveying the contributions of a whole herd of cows, in large tin canisters. But let all these pay their toll and pass. Here comes a spectacle that causes the old toll-gatherer to smile benignantly, as if the travellers brought sunshine with them and lavished its gladsome influence all along the road.
Lihatlah di sana, seorang pria mendorong sebuah gerobak dorong penuh lobster. Dan kini sebuah gerobak susu berderak melaju cepat, tertutup kanvas hijau, dan mengangkut sumbangan dari seluruh kawanan sapi, dalam kaleng-kaleng timah besar. Namun biarlah semua ini membayar tol mereka dan lewat. Kini datang sebuah pemandangan yang membuat penjaga tol tua itu tersenyum penuh kebajikan, seolah-olah para pengembara membawa serta sinar matahari dan mencurahkan pengaruh gembiranya di sepanjang jalan.
It is a barouche of the newest style, the varnished panels of which reflect the whole moving panorama of the landscape, and show a picture, likewise, of our friend, with his visage broadened, so that his meditative smile is transformed to grotesque merriment. Within, sits a youth, fresh as the summer morn, and beside him a young lady in white, with white gloves upon her slender bands, and a white veil flowing down over her face. But methinks her blushing cheek burns through the snowy veil. Another white-robed virgin sits in front. And who are these, on whom, and on all that appertains to them, the dust of earth seems never to have settled?
Itu adalah sebuah kereta barouche bergaya terbaru, yang panel-panel pernisnya memantulkan seluruh panorama pemandangan yang bergerak, dan juga menampilkan sebuah gambaran sahabat kita, dengan wajahnya yang melebar, sehingga senyum perenungnya berubah menjadi kegembiraan yang jenaka. Di dalamnya duduk seorang pemuda, segar seperti pagi musim panas, dan di sampingnya seorang wanita muda berbusana putih, dengan sarung tangan putih di tangannya yang ramping, dan sebuah kerudung putih yang menutupi wajahnya. Namun kurasa pipinya yang merona membakar tembus kerudung seputih salju itu. Seorang gadis lain berjubah putih duduk di depan. Dan siapakah mereka ini, yang padanya, dan pada segala yang berkaitan dengan mereka, debu dunia tampaknya belum pernah menempel?
Two lovers, whom the priest has blessed, this blessed morn, and sent them forth, with one of the bridemaids, on the matrimonial tour. Take my blessing too, ye happy ones! May the sky not frown upon you, nor clouds bedew you with their chill and sullen rain! May the hot sun kindle no fever in your hearts! May your whole life's pilgrimage be as blissful as this first day's journey, and its close be gladdened with even brighter anticipations than those which hallow your bridal night!
Sepasang kekasih, yang telah diberkati sang pendeta, di pagi yang penuh berkah ini, dan dikirim pergi, bersama salah seorang pengiring pengantin, dalam perjalanan pernikahan mereka. Terimalah juga berkatku, wahai kalian yang berbahagia! Semoga langit tak mengerutkan dahi kepada kalian, ataupun awan membasahi kalian dengan hujan dinginnya yang muram! Semoga matahari yang panas tak menyalakan demam dalam hati kalian! Semoga seluruh perjalanan ziarah hidup kalian sebahagia perjalanan hari pertama ini, dan penutupnya digembirakan dengan harapan-harapan yang bahkan lebih cerah daripada yang menghiasi malam pernikahan kalian!
They pass; and ere the reflection of their joy has faded from his face, another spectacle throws a melancholy shadow over the spirit of the observing man. In a close carriage sits a fragile figure, muffled carefully, and shrinking even from the mild breath of summer. She leans against a manly form, and his arm infolds her, as if to guard his treasure from some enemy. Let but a few weeks pass, and when he shall strive to embrace that loved one, he will press only desolation to his heart!
Mereka pun lewat; dan sebelum pantulan kebahagiaan mereka memudar dari wajahnya, sebuah pemandangan lain melemparkan bayangan murung ke atas jiwa sang pengamat. Dalam sebuah kereta tertutup duduk sesosok yang rapuh, terbungkus dengan hati-hati, dan menciut bahkan dari embusan lembut musim panas. Ia bersandar pada sesosok pria yang gagah, dan lengan pria itu memeluknya, seolah menjaga harta karunnya dari suatu musuh. Biarkan hanya beberapa minggu berlalu, dan ketika pria itu berusaha memeluk yang dicintainya itu, ia hanya akan menekan kesunyian ke dadanya!
And now has morning gathered up her dewy pearls, and fled away. The sun rolls blazing through the sky, and cannot find a cloud to cool his face with. The horses toil sluggishly along the bridge, and heave their glistening sides in short quick pantings, when the reins are tightened at the toll-house. Glisten, too, the faces of the travellers. Their garments are thickly bestrewn with dust; their whiskers and hair look hoary; their throats are choked with the dusty atmosphere which they have left behind them. No air is stirring on the road. Nature dares draw no breath, lest she should inhale a stifling cloud of dust.
Dan kini pagi telah mengumpulkan mutiara-mutiara embunnya, dan melarikan diri. Matahari menggelinding membara melintasi langit, dan tak menemukan awan untuk mendinginkan wajahnya. Kuda-kuda berjalan lesu menyusuri jembatan, dan mengembungkan sisi tubuhnya yang berkilau dalam napas pendek yang cepat, ketika tali kekang ditarik di pos tol itu. Berkilau pula wajah-wajah para pengembara. Pakaian mereka ditaburi tebal dengan debu; kumis dan rambut mereka tampak memutih; tenggorokan mereka tersedak oleh udara berdebu yang mereka tinggalkan di belakang. Tak ada angin yang berhembus di jalan itu. Alam tak berani menarik napas, khawatir ia akan menghirup awan debu yang mencekik.
"A hot, and dusty day!" cry the poor pilgrims, as they wipe their begrimed foreheads, and woo the doubtful breeze which the river bears along with it. "Awful hot! Dreadful dusty!" answers the sympathetic toll-gatherer. They start again, to pass through the fiery furnace, while he re-enters his cool hermitage, and besprinkles it with a pail of briny water from the stream beneath. He thinks within himself, that the sun is not so fierce here as elsewhere, and that the gentle air does not forget him in these sultry days. Yes, old friend; and a quiet heart will make a dog-day temperate.
"Hari yang panas dan berdebu!" seru para peziarah malang itu, sambil mengusap dahi mereka yang berkotor, dan mengharapkan angin sepoi yang samar yang dibawa sungai bersamanya. "Panas sekali! Berdebu mengerikan!" jawab sang penjaga tol yang penuh simpati. Mereka berangkat lagi, untuk melewati dapur pembakaran yang membara, sementara ia masuk kembali ke pertapaannya yang sejuk, dan memercikinya dengan seember air asin dari sungai di bawahnya. Ia berpikir dalam hatinya, bahwa matahari di sini tak seganas di tempat lain, dan bahwa angin yang lembut tak melupakannya di hari-hari yang gerah ini. Ya, sahabat tua; sebuah hati yang tenang akan membuat hari-hari terpanas menjadi sejuk.
He hears a weary footstep, and perceives a traveller with pack and staff, who sits down upon the hospitable bench, and removes the hat from his wet brow. The toll-gatherer administers a cup of cold water, and discovering his guest to be a man of homely sense, he engages him in profitable talk, uttering the maxims of a philosophy which he has found in his own soul, but knows not how it came there. And as the wayfarer makes ready to resume his journey, he tells him a sovereign remedy for blistered feet.
Ia mendengar langkah kaki yang letih, dan melihat seorang pengembara dengan bungkusan dan tongkat, yang duduk di bangku yang ramah itu, dan melepas topinya dari dahinya yang basah. Sang penjaga tol menyodorkan segelas air dingin, dan mendapati tamunya seorang pria berpengetahuan sederhana, ia melibatkannya dalam percakapan yang bermanfaat, mengucapkan pepatah-pepatah dari sebuah filsafat yang telah ia temukan dalam jiwanya sendiri, namun tak tahu bagaimana itu bisa ada di sana. Dan ketika sang pengembara bersiap melanjutkan perjalanannya, ia memberitahunya sebuah obat mujarab untuk kaki yang melepuh.
Now comes the noontide hour,—of all the hours nearest akin to midnight; for each has its own calmness and repose. Soon, however, the world begins to turn again upon its axis, and it seems the busiest epoch of the day; when an accident impedes the march of sublunary things. The draw being lifted to permit the passage of a schooner, laden with wood from the Eastern forests, she sticks immovably, right athwart the bridge! Meanwhile, on both sides of the chasm, a throng of impatient travellers fret and fume.
Kini tiba jam tengah hari—dari semua jam, yang paling mirip dengan tengah malam; sebab masing-masing memiliki ketenangan dan istirahatnya sendiri. Namun tak lama kemudian, dunia mulai berputar lagi pada porosnya, dan tampaknya menjadi masa tersibuk hari itu; ketika sebuah kecelakaan menghambat laju hal-hal duniawi. Bagian jembatan yang bisa diangkat diangkat untuk memberi jalan sebuah kapal skuner, bermuatan kayu dari hutan-hutan timur, kapal itu tersangkut tak bergerak, tepat melintang di jembatan! Sementara itu, di kedua sisi celah itu, sekumpulan pengembara yang tak sabar mengomel dan mengamuk.
Here are two sailors in a gig, with the top thrown back, both puffing cigars, and swearing all sorts of forecastle oaths; there, in a smart chaise, a dashingly dressed gentleman and lady, he from a tailor's shop-board; and she from a milliner's back room,—the aristocrats of a summer afternoon. And what are the haughtiest of us, but the ephemeral aristocrats of a summer's day? Here is a tin-peddler, whose glittering ware bedazzles all beholders, like a travelling meteor, or opposition sun; and on the other side a seller of spruce-beer, which brisk liquor is confined in several dozen of stone bottles.
Di sini ada dua pelaut dalam sebuah kereta ringan, dengan atap terlipat ke belakang, keduanya mengisap cerutu, dan mengumpat segala macam sumpah serapan pelaut; di sana, dalam sebuah kereta yang mentereng, seorang pria dan wanita berpakaian necis, pria itu dari toko tukang jahit; dan wanita itu dari kamar belakang toko topi—para bangsawan sebuah sore musim panas. Dan apalah kita yang paling angkuh sekalipun, selain bangsawan-bangsawan fana sehari musim panas? Di sini seorang penjaja perkakas timah, yang barang dagangannya yang berkilau memukau semua yang melihat, seperti meteor keliling, atau matahari tandingan; dan di seberangnya seorang penjual bir cemara, cairan yang menyegarkan itu terkurung dalam berlusin-lusin botol batu.
Here comes a party of ladies on horseback, in green riding-habits, and gentlemen attendant; and there a flock of sheep for the market, pattering over the bridge with a multitudinous clatter of their little hoofs. Here a Frenchman, with a hand-organ on his shoulder; and there an itinerant Swiss jeweller. On this side, heralded by a blast of clarions and bugles, appears a train of wagons, conveying all the wild beasts of a caravan; and on that, a company of summer soldiers, marching from village to village on a festival campaign, attended by the "brass band."
Di sini datang serombongan wanita menunggang kuda, berpakaian tunggang hijau, dan para pria pendamping; dan di sana sekawanan domba menuju pasar, berderap di atas jembatan dengan derap kuku kecil mereka yang riuh. Di sini seorang Prancis, dengan sebuah organ tangan di pundaknya; dan di sana seorang pedagang perhiasan Swiss yang berkeliling. Di satu sisi, diiringi hentakan terompet dan sangkakala, muncul serangkaian gerobak, mengangkut segala binatang liar sebuah kafilah keliling; dan di sisi lain, sepasukan tentara musim panas, berbaris dari desa ke desa dalam sebuah kampanye perayaan, diiringi "band musik kuningan."
Now look at the scene, and it presents an emblem of the mysterious confusion, the apparently insolvable riddle, in which individuals, or the great world itself, seem often to be involved. What miracle shall set all things right again?
Kini pandanglah pemandangan itu, dan ia menghadirkan sebuah lambang kekacauan misterius, teka-teki yang tampaknya tak terpecahkan, yang di dalamnya individu-individu, atau dunia besar itu sendiri, tampaknya sering terlibat. Keajaiban apakah yang akan membetulkan segalanya kembali?
But see! the schooner has thrust her bulky carcass through the chasm; the draw descends; horse and foot pass onward, and leave the bridge vacant from end to end. "And thus," muses the toll-gatherer, "have I found it with all stoppages, even though the universe seemed to be at a stand." The sage old man!
Namun lihatlah! kapal skuner itu telah mendorong tubuhnya yang besar melewati celah itu; bagian jembatan yang terangkat itu turun kembali; kuda dan pejalan kaki melaju terus, dan meninggalkan jembatan itu kosong dari ujung ke ujung. "Dan begitulah," renung sang penjaga tol, "kudapati hal itu dengan segala hambatan, bahkan ketika seluruh alam semesta tampak terhenti." Orang tua yang bijak itu!
Far westward now, the reddening sun throws a broad sheet of splendor across the flood, and to the eyes of distant boatmen gleams brightly among the timbers of the bridge. Strollers come from the town to quaff the freshening breeze. One or two let down long lines, and haul up flapping flounders, or cunners, or small cod, or perhaps an eel. Others, and fair girls among them, with the flush of the hot day still on their cheeks, bend over the railing and watch the heaps of sea-weed floating upward with the flowing tide. The horses now tramp heavily along the bridge, and wistfully bethink them of their stables. Rest, rest, thou weary world!
Jauh ke barat kini, matahari yang memerah melemparkan lembaran kemegahan yang lebar melintasi banjir itu, dan bagi mata para pelaut yang jauh berkilau cerah di antara balok-balok jembatan itu. Para pejalan santai datang dari kota untuk menghirup angin yang menyegarkan. Satu atau dua orang menurunkan tali panjang, dan menarik naik ikan sebelah yang menggelepar, atau ikan cunner, atau ikan kod kecil, atau mungkin seekor belut. Yang lain, dan di antara mereka gadis-gadis cantik, dengan rona hari yang panas masih di pipi mereka, bersandar pada pagar dan menyaksikan tumpukan rumput laut yang mengapung naik bersama air pasang yang mengalir. Kuda-kuda kini berjalan berat menyusuri jembatan, dan merindukan kandang mereka. Beristirahatlah, beristirahatlah, wahai dunia yang letih!
For tomorrow's round of toil and pleasure will be as wearisome as to-day's has been; yet both shall bear thee onward a day's march of eternity. Now the old toll-gatherer looks seaward, and discerns the lighthouse kindling on a far island, and the stars, too, kindling in the sky, as if but a little way beyond; and mingling reveries of Heaven with remembrances of Earth, the whole procession of mortal travellers, all the dusty pilgrimage which he has witnessed, seems like a flitting show of phantoms for his thoughtful soul to muse upon.
Sebab putaran kerja dan kesenangan esok hari akan sama melelahkannya seperti hari ini; namun keduanya akan membawamu maju satu hari perjalanan menuju keabadian. Kini sang penjaga tol tua memandang ke laut, dan melihat mercusuar menyala di sebuah pulau jauh, dan bintang-bintang, juga, menyala di langit, seolah hanya sedikit lebih jauh; dan mencampurkan renungan tentang Surga dengan kenangan tentang Bumi, seluruh iring-iringan pengembara fana, seluruh ziarah berdebu yang telah ia saksikan, tampak seperti sebuah pertunjukan hantu yang berlalu bagi jiwanya yang perenung untuk direnungkan.