The Elephant's Child
A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
An impossibly curious young elephant refuses to stop asking questions, no matter how many relatives swat him for it — until one especially nosy question by the Limpopo River changes his shape forever.
In the High and Far-Off Times the Elephant, O Best Beloved, had no trunk. He had only a blackish, bulgy nose, as big as a boot, that he could wriggle about from side to side; but he couldn’t pick up things with it. But there was one Elephant—a new Elephant—an Elephant’s Child—who was full of ‘satiable curtiosity, and that means he asked ever so many questions. And he lived in Africa, and he filled all Africa with his ‘satiable curtiosities.
Pada Zaman Dahulu yang Jauh dan Tinggi, wahai Yang Tercinta, Gajah belum punya belalai. Ia hanya punya hidung kehitaman yang bengkak, sebesar sepatu bot, yang bisa digoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan; tapi ia tidak bisa mengambil apa pun dengannya. Tetapi ada seekor Gajah—seekor Gajah baru—seekor Anak Gajah—yang penuh dengan rasa ingin tahu yang 'amat sangat, dan itu artinya ia bertanya banyak sekali pertanyaan. Dan ia tinggal di Afrika, dan ia memenuhi seluruh Afrika dengan rasa ingin tahunya yang 'amat sangat itu.
He asked his tall aunt, the Ostrich, why her tail-feathers grew just so, and his tall aunt the Ostrich spanked him with her hard, hard claw. He asked his tall uncle, the Giraffe, what made his skin spotty, and his tall uncle, the Giraffe, spanked him with his hard, hard hoof. And still he was full of ‘satiable curtiosity!
Ia bertanya kepada bibinya yang tinggi, Burung Unta, mengapa bulu ekornya tumbuh begitu rupa, dan bibinya yang tinggi, Burung Unta, menampar pantatnya dengan cakarnya yang keras, keras sekali. Ia bertanya kepada pamannya yang tinggi, Jerapah, apa yang membuat kulitnya berbintik-bintik, dan pamannya yang tinggi, Jerapah, menampar pantatnya dengan kukunya yang keras, keras sekali. Dan ia masih tetap penuh rasa ingin tahu yang 'amat sangat!
He asked his broad aunt, the Hippopotamus, why her eyes were red, and his broad aunt, the Hippopotamus, spanked him with her broad, broad hoof; and he asked his hairy uncle, the Baboon, why melons tasted just so, and his hairy uncle, the Baboon, spanked him with his hairy, hairy paw. And still he was full of ‘satiable curtiosity!
Ia bertanya kepada bibinya yang lebar, Kuda Nil, mengapa matanya merah, dan bibinya yang lebar, Kuda Nil, menampar pantatnya dengan kukunya yang lebar, lebar sekali; dan ia bertanya kepada pamannya yang berbulu lebat, Baboon, mengapa buah melon rasanya begitu rupa, dan pamannya yang berbulu lebat, Baboon, menampar pantatnya dengan cakarnya yang berbulu lebat, lebat sekali. Dan ia masih tetap penuh rasa ingin tahu yang 'amat sangat!
He asked questions about everything that he saw, or heard, or felt, or smelt, or touched, and all his uncles and his aunts spanked him. And still he was full of ‘satiable curtiosity!
Ia bertanya tentang segala sesuatu yang ia lihat, atau dengar, atau rasakan, atau cium, atau sentuh, dan semua paman dan bibinya menampar pantatnya. Dan ia masih tetap penuh rasa ingin tahu yang 'amat sangat!
One fine morning in the middle of the Precession of the Equinoxes this ‘satiable Elephant’s Child asked a new fine question that he had never asked before. He asked, ‘What does the Crocodile have for dinner?’ Then everybody said, ‘Hush!’ in a loud and dretful tone, and they spanked him immediately and directly, without stopping, for a long time.
Pada suatu pagi yang cerah di tengah-tengah Presesi Ekuinoks, Anak Gajah yang penuh rasa ingin tahu 'amat sangat ini bertanya sebuah pertanyaan baru yang belum pernah ia tanyakan sebelumnya. Ia bertanya, 'Apa yang dimakan Buaya untuk makan malam?' Maka semua orang berkata, 'Diam!' dengan nada keras dan mengerikan, dan mereka langsung menampar pantatnya seketika itu juga, tanpa henti, untuk waktu yang lama.
By and by, when that was finished, he came upon Kolokolo Bird sitting in the middle of a wait-a-bit thorn-bush, and he said, ‘My father has spanked me, and my mother has spanked me; all my aunts and uncles have spanked me for my ‘satiable curtiosity; and still I want to know what the Crocodile has for dinner!’
Tak lama kemudian, setelah semua itu selesai, ia berjumpa dengan Burung Kolokolo yang sedang duduk di tengah semak berduri tunggu-sebentar, dan ia berkata, 'Ayahku sudah menampar pantatku, dan ibuku sudah menampar pantatku; semua paman dan bibiku sudah menampar pantatku karena rasa ingin tahuku yang 'amat sangat; dan aku masih tetap ingin tahu apa yang dimakan Buaya untuk makan malam!'
Then Kolokolo Bird said, with a mournful cry, ‘Go to the banks of the great grey-green, greasy Limpopo River, all set about with fever-trees, and find out.’
Maka Burung Kolokolo berkata, dengan suara sedih, 'Pergilah ke tepian Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak, yang dikelilingi pohon-pohon demam, dan cari tahulah sendiri.'
That very next morning, when there was nothing left of the Equinoxes, because the Precession had preceded according to precedent, this ‘satiable Elephant’s Child took a hundred pounds of bananas (the little short red kind), and a hundred pounds of sugar-cane (the long purple kind), and seventeen melons (the greeny-crackly kind), and said to all his dear families, ‘Goodbye. I am going to the great grey-green, greasy Limpopo River, all set about with fever-trees, to find out what the Crocodile has for dinner.’ And they all spanked him once more for luck, though he asked them most politely to stop.
Keesokan paginya, ketika tak ada lagi sisa Ekuinoks, karena Presesi telah mendahului sesuai dengan yang seharusnya, Anak Gajah yang penuh rasa ingin tahu 'amat sangat ini membawa seratus pon pisang (jenis yang pendek dan merah), dan seratus pon tebu (jenis yang panjang dan ungu), dan tujuh belas buah melon (jenis yang hijau dan berderak), dan berkata kepada seluruh keluarga tercintanya, 'Selamat tinggal. Aku akan pergi ke Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak, yang dikelilingi pohon-pohon demam, untuk mencari tahu apa yang dimakan Buaya untuk makan malam.' Dan mereka semua menampar pantatnya sekali lagi untuk keberuntungan, meski ia sudah meminta dengan sangat sopan agar mereka berhenti.
Then he went away, a little warm, but not at all astonished, eating melons, and throwing the rind about, because he could not pick it up.
Lalu ia pun pergi, agak hangat badannya, tetapi sama sekali tidak terkejut, sambil makan melon, dan melempar-lemparkan kulitnya, karena ia tidak bisa mengambilnya kembali.
He went from Graham’s Town to Kimberley, and from Kimberley to Khama’s Country, and from Khama’s Country he went east by north, eating melons all the time, till at last he came to the banks of the great grey-green, greasy Limpopo River, all set about with fever-trees, precisely as Kolokolo Bird had said.
Ia pergi dari Kota Graham ke Kimberley, dan dari Kimberley ke Negeri Khama, dan dari Negeri Khama ia pergi ke arah timur-utara, sambil terus makan melon sepanjang jalan, sampai akhirnya ia tiba di tepian Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak, yang dikelilingi pohon-pohon demam, persis seperti yang dikatakan Burung Kolokolo.
Now you must know and understand, O Best Beloved, that till that very week, and day, and hour, and minute, this ‘satiable Elephant’s Child had never seen a Crocodile, and did not know what one was like. It was all his ‘satiable curtiosity.
Sekarang kau harus tahu dan mengerti, wahai Yang Tercinta, bahwa sampai minggu, hari, jam, dan menit itu, Anak Gajah yang penuh rasa ingin tahu 'amat sangat ini belum pernah melihat seekor Buaya, dan tidak tahu seperti apa rupanya. Semua ini gara-gara rasa ingin tahunya yang 'amat sangat.
The first thing that he found was a Bi-Coloured-Python-Rock-Snake curled round a rock.
Hal pertama yang ia jumpai adalah seekor Ular-Piton-Batu Dwiwarna yang melingkar di sebuah batu.
‘’Scuse me,’ said the Elephant’s Child most politely, ‘but have you seen such a thing as a Crocodile in these promiscuous parts?’
'Permisi,' kata Anak Gajah dengan sangat sopan, 'tapi apakah kau pernah melihat sesuatu seperti Buaya di sekitar sini?'
‘Have I seen a Crocodile?’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake, in a voice of dretful scorn. ‘What will you ask me next?’
'Apa aku pernah melihat Buaya?' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna, dengan suara penuh hinaan yang mengerikan. 'Apa lagi yang akan kau tanyakan kepadaku?'
‘’Scuse me,’ said the Elephant’s Child, ‘but could you kindly tell me what he has for dinner?’
'Permisi,' kata Anak Gajah, 'tapi bisakah kau baik hati memberitahuku apa yang ia makan untuk makan malam?'
Then the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake uncoiled himself very quickly from the rock, and spanked the Elephant’s Child with his scalesome, flailsome tail.
Maka Ular-Piton-Batu Dwiwarna itu segera melepaskan lilitannya dari batu, dan menampar pantat Anak Gajah dengan ekornya yang bersisik dan mencambuk-cambuk.
‘That is odd,’ said the Elephant’s Child, ‘because my father and my mother, and my uncle and my aunt, not to mention my other aunt, the Hippopotamus, and my other uncle, the Baboon, have all spanked me for my ‘satiable curtiosity—and I suppose this is the same thing.
'Aneh sekali,' kata Anak Gajah, 'sebab ayahku dan ibuku, dan pamanku dan bibiku, belum lagi bibiku yang lain, si Kuda Nil, dan pamanku yang lain, si Baboon, semuanya sudah menampar pantatku karena rasa ingin tahuku yang 'amat sangat—dan kurasa ini hal yang sama saja.
So he said good-bye very politely to the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake, and helped to coil him up on the rock again, and went on, a little warm, but not at all astonished, eating melons, and throwing the rind about, because he could not pick it up, till he trod on what he thought was a log of wood at the very edge of the great grey-green, greasy Limpopo River, all set about with fever-trees.
Maka ia pun berpamitan dengan sangat sopan kepada Ular-Piton-Batu Dwiwarna, dan membantu melilitkannya kembali di batu, lalu melanjutkan perjalanan, agak hangat badannya, tetapi sama sekali tidak terkejut, sambil makan melon, dan melempar-lemparkan kulitnya, karena ia tidak bisa mengambilnya kembali, sampai ia menginjak sesuatu yang ia sangka sepotong kayu di tepi Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak, yang dikelilingi pohon-pohon demam.
But it was really the Crocodile, O Best Beloved, and the Crocodile winked one eye—like this!
Tetapi itu sebenarnya adalah Buaya, wahai Yang Tercinta, dan Buaya itu mengedipkan sebelah matanya—begini!
‘’Scuse me,’ said the Elephant’s Child most politely, ‘but do you happen to have seen a Crocodile in these promiscuous parts?’
'Permisi,' kata Anak Gajah dengan sangat sopan, 'tapi apakah kau kebetulan pernah melihat seekor Buaya di sekitar sini?'
Then the Crocodile winked the other eye, and lifted half his tail out of the mud; and the Elephant’s Child stepped back most politely, because he did not wish to be spanked again.
Maka Buaya itu mengedipkan mata sebelahnya lagi, dan mengangkat separuh ekornya dari lumpur; dan Anak Gajah pun mundur dengan sangat sopan, karena ia tidak ingin pantatnya ditampar lagi.
‘Come hither, Little One,’ said the Crocodile. ‘Why do you ask such things?’
'Kemarilah, Nak Kecil,' kata Buaya. 'Mengapa kau menanyakan hal-hal seperti itu?'
‘’Scuse me,’ said the Elephant’s Child most politely, ‘but my father has spanked me, my mother has spanked me, not to mention my tall aunt, the Ostrich, and my tall uncle, the Giraffe, who can kick ever so hard, as well as my broad aunt, the Hippopotamus, and my hairy uncle, the Baboon, and including the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake, with the scalesome, flailsome tail, just up the bank, who spanks harder than any of them; and so, if it’s quite all the same to you, I don’t want to be spanked any more.’
'Permisi,' kata Anak Gajah dengan sangat sopan, 'tapi ayahku sudah menampar pantatku, ibuku sudah menampar pantatku, belum lagi bibiku yang tinggi, si Burung Unta, dan pamanku yang tinggi, si Jerapah, yang bisa menendang begitu keras, juga bibiku yang lebar, si Kuda Nil, dan pamanku yang berbulu lebat, si Baboon, dan termasuk Ular-Piton-Batu Dwiwarna, dengan ekornya yang bersisik dan mencambuk-cambuk, di tepian sana, yang tamparannya lebih keras dari siapa pun; jadi, kalau bagimu tidak ada bedanya, aku tidak ingin ditampar lagi.'
‘Come hither, Little One,’ said the Crocodile, ‘for I am the Crocodile,’ and he wept crocodile-tears to show it was quite true.
'Kemarilah, Nak Kecil,' kata Buaya, 'sebab akulah Buaya,' dan ia meneteskan air mata buaya untuk membuktikan bahwa itu memang benar.
Then the Elephant’s Child grew all breathless, and panted, and kneeled down on the bank and said, ‘You are the very person I have been looking for all these long days. Will you please tell me what you have for dinner?’
Maka Anak Gajah pun jadi tersengal-sengal napasnya, dan terengah-engah, dan berlutut di tepian sungai lalu berkata, 'Kaulah orang yang sudah kucari selama ini. Maukah kau memberitahuku apa yang kau makan untuk makan malam?'
‘Come hither, Little One,’ said the Crocodile, ‘and I’ll whisper.’
'Kemarilah, Nak Kecil,' kata Buaya, 'akan kubisikkan.'
Then the Elephant’s Child put his head down close to the Crocodile’s musky, tusky mouth, and the Crocodile caught him by his little nose, which up to that very week, day, hour, and minute, had been no bigger than a boot, though much more useful.
Maka Anak Gajah pun mendekatkan kepalanya ke mulut Buaya yang berbau tajam dan bertaring itu, dan Buaya pun menangkap hidungnya yang kecil, yang sampai minggu, hari, jam, dan menit itu, tidak lebih besar dari sebuah sepatu bot, meski jauh lebih berguna.
‘I think, said the Crocodile—and he said it between his teeth, like this—‘I think to-day I will begin with Elephant’s Child!’
'Kurasa,' kata Buaya—dan ia mengatakannya di sela giginya, begini—'kurasa hari ini aku akan mulai dengan Anak Gajah!'
At this, O Best Beloved, the Elephant’s Child was much annoyed, and he said, speaking through his nose, like this, ‘Led go! You are hurtig be!’
Mendengar ini, wahai Yang Tercinta, Anak Gajah sangat kesal, dan ia berkata, sambil bicara lewat hidungnya, begini, 'Lepasgan! Kau bikig sakid!'
Then the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake scuffled down from the bank and said, ‘My young friend, if you do not now, immediately and instantly, pull as hard as ever you can, it is my opinion that your acquaintance in the large-pattern leather ulster’ (and by this he meant the Crocodile) ‘will jerk you into yonder limpid stream before you can say Jack Robinson.’
Maka Ular-Piton-Batu Dwiwarna pun bergegas turun dari tepian dan berkata, 'Sahabat mudaku, jika kau tidak sekarang juga, segera dan seketika, menarik sekuat-kuatnya yang kau bisa, kurasa kenalanmu yang berjubah kulit berpola besar itu' (yang ia maksud adalah Buaya) 'akan menyentakmu ke dalam sungai yang jernih di sana sebelum kau sempat berkata apa-apa.'
This is the way Bi-Coloured-Python-Rock-Snakes always talk.
Begitulah cara Ular-Piton-Batu Dwiwarna selalu bicara.
Then the Elephant’s Child sat back on his little haunches, and pulled, and pulled, and pulled, and his nose began to stretch. And the Crocodile floundered into the water, making it all creamy with great sweeps of his tail, and he pulled, and pulled, and pulled.
Maka Anak Gajah pun duduk bertumpu pada pinggulnya yang kecil, dan menarik, dan menarik, dan menarik, dan hidungnya mulai memanjang. Dan Buaya pun berkecipak-kecipak di air, membuatnya berbuih dengan sapuan-sapuan besar ekornya, dan ia menarik, dan menarik, dan menarik.
And the Elephant’s Child’s nose kept on stretching; and the Elephant’s Child spread all his little four legs and pulled, and pulled, and pulled, and his nose kept on stretching; and the Crocodile threshed his tail like an oar, and he pulled, and pulled, and pulled, and at each pull the Elephant’s Child’s nose grew longer and longer—and it hurt him hijjus!
Dan hidung Anak Gajah terus memanjang; dan Anak Gajah pun merentangkan keempat kakinya yang kecil dan menarik, dan menarik, dan menarik, dan hidungnya terus memanjang; dan Buaya mengibaskan ekornya seperti dayung, dan ia menarik, dan menarik, dan menarik, dan di setiap tarikan hidung Anak Gajah semakin panjang dan panjang—dan sakitnya bukan main!
Then the Elephant’s Child felt his legs slipping, and he said through his nose, which was now nearly five feet long, ‘This is too butch for be!’
Maka Anak Gajah pun merasa kakinya mulai terpeleset, dan ia berkata lewat hidungnya, yang kini panjangnya hampir lima kaki, 'Ini terladu berad bagigu!'
Then the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake came down from the bank, and knotted himself in a double-clove-hitch round the Elephant’s Child’s hind legs, and said, ‘Rash and inexperienced traveller, we will now seriously devote ourselves to a little high tension, because if we do not, it is my impression that yonder self-propelling man-of-war with the armour-plated upper deck’ (and by this, O Best Beloved, he meant the Crocodile), ‘will permanently vitiate your future career.
Maka Ular-Piton-Batu Dwiwarna pun turun dari tepian, dan melilitkan dirinya dalam ikatan simpul ganda di sekitar kaki belakang Anak Gajah, dan berkata, 'Wahai musafir yang gegabah dan belum berpengalaman, sekarang marilah kita bersama-sama serius mengerahkan tegangan tinggi, sebab jika tidak, kurasa kapal perang berlapis baja itu' (yang ia maksud, wahai Yang Tercinta, adalah Buaya), 'akan merusak masa depanmu selamanya.'
That is the way all Bi-Coloured-Python-Rock-Snakes always talk.
Begitulah cara semua Ular-Piton-Batu Dwiwarna selalu bicara.
So he pulled, and the Elephant’s Child pulled, and the Crocodile pulled; but the Elephant’s Child and the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake pulled hardest; and at last the Crocodile let go of the Elephant’s Child’s nose with a plop that you could hear all up and down the Limpopo.
Maka ia pun menarik, dan Anak Gajah menarik, dan Buaya menarik; tetapi Anak Gajah dan Ular-Piton-Batu Dwiwarna menarik paling keras; dan akhirnya Buaya pun melepaskan hidung Anak Gajah dengan bunyi 'plop' yang bisa terdengar di sepanjang Sungai Limpopo.
Then the Elephant’s Child sat down most hard and sudden; but first he was careful to say ‘Thank you’ to the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake; and next he was kind to his poor pulled nose, and wrapped it all up in cool banana leaves, and hung it in the great grey-green, greasy Limpopo to cool.
Maka Anak Gajah pun terduduk dengan keras dan tiba-tiba; tapi lebih dulu ia sempat mengucapkan 'Terima kasih' kepada Ular-Piton-Batu Dwiwarna; dan setelah itu ia bersikap baik kepada hidungnya yang malang bekas ditarik itu, membungkusnya dengan daun pisang yang sejuk, dan menggantungkannya di Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak itu untuk mendinginkannya.
‘What are you doing that for?’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake.
'Untuk apa kau lakukan itu?' tanya Ular-Piton-Batu Dwiwarna.
‘’Scuse me,’ said the Elephant’s Child, ‘but my nose is badly out of shape, and I am waiting for it to shrink.
'Permisi,' kata Anak Gajah, 'tapi hidungku sudah berubah bentuk dengan buruk, dan aku sedang menunggu supaya ia mengecil kembali.'
‘Then you will have to wait a long time, said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake. ‘Some people do not know what is good for them.’
'Kalau begitu kau harus menunggu lama sekali,' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna. 'Ada orang yang tidak tahu apa yang baik untuk mereka.'
The Elephant’s Child sat there for three days waiting for his nose to shrink. But it never grew any shorter, and, besides, it made him squint. For, O Best Beloved, you will see and understand that the Crocodile had pulled it out into a really truly trunk same as all Elephants have to-day.
Anak Gajah duduk di sana selama tiga hari menunggu hidungnya mengecil. Tapi hidungnya tak pernah memendek, malah membuatnya juling. Sebab, wahai Yang Tercinta, kau akan lihat dan mengerti bahwa Buaya telah menariknya menjadi sebuah belalai sungguhan seperti yang dimiliki semua Gajah zaman sekarang.
At the end of the third day a fly came and stung him on the shoulder, and before he knew what he was doing he lifted up his trunk and hit that fly dead with the end of it.
Pada akhir hari ketiga seekor lalat datang dan menyengat bahunya, dan sebelum ia sadar apa yang ia lakukan, ia mengangkat belalainya dan memukul lalat itu hingga mati dengan ujungnya.
‘’Vantage number one!’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake. ‘You couldn’t have done that with a mere-smear nose. Try and eat a little now.’
'Keuntungan pertama!' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna. 'Kau tak akan bisa melakukan itu dengan hidung yang cuma bengkak begitu saja. Sekarang coba makan sesuatu.'
Before he thought what he was doing the Elephant’s Child put out his trunk and plucked a large bundle of grass, dusted it clean against his fore-legs, and stuffed it into his own mouth.
Sebelum ia sadar apa yang ia lakukan, Anak Gajah mengulurkan belalainya dan memetik seikat besar rumput, mengibaskannya bersih di kaki depannya, lalu memasukkannya ke mulutnya sendiri.
‘Vantage number two!’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake. ‘You couldn’t have done that with a mere-smear nose. Don’t you think the sun is very hot here?’
'Keuntungan kedua!' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna. 'Kau tak akan bisa melakukan itu dengan hidung yang cuma bengkak begitu saja. Menurutmu, apakah matahari di sini sangat panas?'
‘It is,’ said the Elephant’s Child, and before he thought what he was doing he schlooped up a schloop of mud from the banks of the great grey-green, greasy Limpopo, and slapped it on his head, where it made a cool schloopy-sloshy mud-cap all trickly behind his ears.
'Memang,' kata Anak Gajah, dan sebelum ia sadar apa yang ia lakukan, ia menciduk segenggam lumpur dari tepian Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak, lalu menempelkannya di kepalanya, sehingga terbentuklah topi lumpur yang sejuk dan lengket, menetes-netes di belakang telinganya.
‘Vantage number three!’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake. ‘You couldn’t have done that with a mere-smear nose. Now how do you feel about being spanked again?’
'Keuntungan ketiga!' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna. 'Kau tak akan bisa melakukan itu dengan hidung yang cuma bengkak begitu saja. Sekarang, bagaimana perasaanmu jika ditampar lagi?'
‘’Scuse me,’ said the Elephant’s Child, ‘but I should not like it at all.’
'Permisi,' kata Anak Gajah, 'tapi aku sama sekali tidak akan menyukainya.'
‘How would you like to spank somebody?’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake.
'Bagaimana kalau kau yang menampar orang lain?' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna.
‘I should like it very much indeed,’ said the Elephant’s Child.
'Aku akan sangat menyukainya,' kata Anak Gajah.
‘Well,’ said the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake, ‘you will find that new nose of yours very useful to spank people with.’
'Nah,' kata Ular-Piton-Batu Dwiwarna, 'kau akan mendapati bahwa hidung barumu itu sangat berguna untuk menampar orang.'
‘Thank you,’ said the Elephant’s Child, ‘I’ll remember that; and now I think I’ll go home to all my dear families and try.’
'Terima kasih,' kata Anak Gajah, 'akan kuingat itu; dan sekarang kurasa aku akan pulang ke semua keluarga tercintaku dan mencobanya.'
So the Elephant’s Child went home across Africa frisking and whisking his trunk. When he wanted fruit to eat he pulled fruit down from a tree, instead of waiting for it to fall as he used to do. When he wanted grass he plucked grass up from the ground, instead of going on his knees as he used to do. When the flies bit him he broke off the branch of a tree and used it as fly-whisk; and he made himself a new, cool, slushy-squshy mud-cap whenever the sun was hot. When he felt lonely walking through Africa he sang to himself down his trunk, and the noise was louder than several brass bands.
Maka Anak Gajah pun pulang melintasi Afrika sambil berlompat-lompat dan mengibas-ngibaskan belalainya. Ketika ia ingin makan buah, ia menarik buah itu turun dari pohon, alih-alih menunggunya jatuh seperti dulu. Ketika ia ingin makan rumput, ia mencabut rumput dari tanah, alih-alih berlutut seperti dulu. Ketika lalat menggigitnya, ia mematahkan ranting pohon dan memakainya sebagai kebutan lalat; dan ia membuat topi lumpur yang baru, sejuk, dan lengket setiap kali matahari terik. Ketika ia merasa kesepian berjalan-jalan di Afrika, ia bernyanyi untuk dirinya sendiri lewat belalainya, dan suaranya lebih keras daripada beberapa kelompok musik tiup sekaligus.
He went especially out of his way to find a broad Hippopotamus (she was no relation of his), and he spanked her very hard, to make sure that the Bi-Coloured-Python-Rock-Snake had spoken the truth about his new trunk. The rest of the time he picked up the melon rinds that he had dropped on his way to the Limpopo—for he was a Tidy Pachyderm.
Ia sengaja mencari-cari seekor Kuda Nil yang lebar (yang bukan sanak saudaranya), dan ia menampar pantatnya dengan sangat keras, untuk memastikan bahwa Ular-Piton-Batu Dwiwarna telah berkata benar tentang belalai barunya itu. Sisa waktunya ia habiskan untuk memungut kulit-kulit melon yang telah ia jatuhkan di sepanjang perjalanannya ke Limpopo—sebab ia adalah Hewan Berkulit Tebal yang Rapi.
One dark evening he came back to all his dear families, and he coiled up his trunk and said, ‘How do you do?’ They were very glad to see him, and immediately said, ‘Come here and be spanked for your ‘satiable curtiosity.’
Pada suatu petang yang gelap ia kembali kepada semua keluarga tercintanya, dan ia melingkarkan belalainya lalu berkata, 'Apa kabar?' Mereka sangat senang melihatnya, dan segera berkata, 'Kemarilah dan biarkan pantatmu ditampar karena rasa ingin tahumu yang 'amat sangat.'
‘Pooh,’ said the Elephant’s Child. ‘I don’t think you peoples know anything about spanking; but I do, and I’ll show you.’ Then he uncurled his trunk and knocked two of his dear brothers head over heels.
'Cih,' kata Anak Gajah. 'Kurasa kalian semua tidak tahu apa-apa tentang menampar; tapi aku tahu, dan akan kutunjukkan.' Lalu ia membuka gulungan belalainya dan menjatuhkan dua saudaranya tercinta hingga terjungkal.
‘O Bananas!’ said they, ‘where did you learn that trick, and what have you done to your nose?’
'Astaga!' kata mereka, 'dari mana kau belajar trik itu, dan apa yang sudah kau lakukan pada hidungmu?'
‘I got a new one from the Crocodile on the banks of the great grey-green, greasy Limpopo River,’ said the Elephant’s Child. ‘I asked him what he had for dinner, and he gave me this to keep.’
'Aku mendapat yang baru dari Buaya di tepian Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak,' kata Anak Gajah. 'Aku bertanya kepadanya apa yang ia makan untuk makan malam, dan ia memberiku ini untuk kusimpan.'
‘It looks very ugly,’ said his hairy uncle, the Baboon.
'Itu terlihat sangat jelek,' kata pamannya yang berbulu lebat, si Baboon.
‘It does,’ said the Elephant’s Child. ‘But it’s very useful,’ and he picked up his hairy uncle, the Baboon, by one hairy leg, and hove him into a hornet’s nest.
'Memang,' kata Anak Gajah. 'Tapi sangat berguna,' dan ia mengangkat pamannya yang berbulu lebat, si Baboon, dari salah satu kakinya yang berbulu lebat, lalu melemparkannya ke dalam sarang lebah tabuhan.
Then that bad Elephant’s Child spanked all his dear families for a long time, till they were very warm and greatly astonished. He pulled out his tall Ostrich aunt’s tail-feathers; and he caught his tall uncle, the Giraffe, by the hind-leg, and dragged him through a thorn-bush; and he shouted at his broad aunt, the Hippopotamus, and blew bubbles into her ear when she was sleeping in the water after meals; but he never let any one touch Kolokolo Bird.
Kemudian Anak Gajah yang nakal itu menampar pantat seluruh keluarga tercintanya untuk waktu yang lama, sampai mereka semua kepanasan dan sangat terkejut. Ia mencabuti bulu ekor bibinya yang tinggi, si Burung Unta; dan ia menangkap pamannya yang tinggi, si Jerapah, dari kaki belakangnya, dan menyeretnya melalui semak berduri; dan ia berteriak kepada bibinya yang lebar, si Kuda Nil, dan meniupkan gelembung ke telinganya ketika ia sedang tidur di air sehabis makan; tapi ia tak pernah membiarkan siapa pun menyentuh Burung Kolokolo.
At last things grew so exciting that his dear families went off one by one in a hurry to the banks of the great grey-green, greasy Limpopo River, all set about with fever-trees, to borrow new noses from the Crocodile. When they came back nobody spanked anybody any more; and ever since that day, O Best Beloved, all the Elephants you will ever see, besides all those that you won’t, have trunks precisely like the trunk of the ‘satiable Elephant’s Child.
Akhirnya keadaan menjadi begitu menegangkan sehingga keluarga tercintanya pergi satu demi satu, tergesa-gesa, ke tepian Sungai Limpopo yang besar, kelabu-kehijauan, dan berminyak, yang dikelilingi pohon-pohon demam, untuk meminjam hidung baru dari Buaya. Ketika mereka kembali, tak ada lagi yang menampar siapa pun; dan sejak hari itu, wahai Yang Tercinta, semua Gajah yang pernah kau lihat, dan juga yang tidak akan pernah kau lihat, memiliki belalai persis seperti belalai milik Anak Gajah yang penuh rasa ingin tahu 'amat sangat itu.
I Keep six honest serving-men: (They taught me all I knew) Their names are What and Where and When And How and Why and Who. I send them over land and sea, I send them east and west; But after they have worked for me, I give them all a rest.
Kupelihara enam pelayan setia: (Mereka mengajariku semua yang kutahu) Nama mereka Apa dan Di Mana dan Kapan Dan Bagaimana dan Mengapa dan Siapa. Kukirim mereka ke darat dan laut, Kukirim mereka ke timur dan barat; Tapi setelah mereka bekerja untukku, Kuberi mereka semua waktu istirahat.
I let them rest from nine till five. For I am busy then, As well as breakfast, lunch, and tea, For they are hungry men: But different folk have different views: I know a person small— She keeps ten million serving-men, Who get no rest at all! She sends ‘em abroad on her own affairs, From the second she opens her eyes— One million Hows, two million Wheres, And seven million Whys!
Kubiarkan mereka istirahat dari jam sembilan sampai lima. Sebab aku sibuk waktu itu, Begitu pula sarapan, makan siang, dan minum teh, Sebab mereka orang-orang yang lapar: Tapi orang berbeda punya pandangan berbeda: Aku kenal seseorang yang kecil— Ia memelihara sepuluh juta pelayan setia, Yang tak pernah beristirahat sama sekali! Ia mengirim mereka ke mana-mana untuk urusannya, Sejak detik ia membuka matanya— Satu juta Bagaimana, dua juta Di Mana, Dan tujuh juta Mengapa!