The Cop and the Anthem
A free C1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A cheerful vagrant schemes his way through New York's winter streets trying to get himself arrested — but every plan backfires in unexpected ways.
On his bench in Madison Square Soapy moved uneasily. When wild geese honk high of nights, and when women without sealskin coats grow kind to their husbands, and when Soapy moves uneasily on his bench in the park, you may know that winter is near at hand.
Di bangkunya di Madison Square, Soapy bergerak gelisah. Ketika angsa liar terdengar berkotek tinggi di malam hari, dan ketika wanita-wanita tanpa mantel kulit anjing laut menjadi baik hati kepada suami mereka, dan ketika Soapy bergerak gelisah di bangkunya di taman, kau boleh tahu bahwa musim dingin sudah dekat.
A dead leaf fell in Soapy’s lap. That was Jack Frost’s card. Jack is kind to the regular denizens of Madison Square, and gives fair warning of his annual call. At the corners of four streets he hands his pasteboard to the North Wind, footman of the mansion of All Outdoors, so that the inhabitants thereof may make ready.
Sehelai daun kering jatuh ke pangkuan Soapy. Itu adalah kartu nama Jack Frost. Jack baik hati kepada para penghuni tetap Madison Square, dan memberi peringatan yang adil tentang kunjungan tahunannya. Di sudut empat jalan, ia menyerahkan kartunya kepada Angin Utara, pelayan dari kediaman Segala Ruang Terbuka, agar para penghuninya bisa bersiap-siap.
Soapy’s mind became cognisant of the fact that the time had come for him to resolve himself into a singular Committee of Ways and Means to provide against the coming rigour. And therefore he moved uneasily on his bench.
Pikiran Soapy pun menyadari bahwa waktunya telah tiba baginya untuk mengubah dirinya menjadi semacam Komite Cara dan Sarana yang unik guna menghadapi kekerasan musim yang akan datang. Karena itu ia bergerak gelisah di bangkunya.
The hibernatorial ambitions of Soapy were not of the highest. In them there were no considerations of Mediterranean cruises, of soporific Southern skies drifting in the Vesuvian Bay. Three months on the Island was what his soul craved. Three months of assured board and bed and congenial company, safe from Boreas and bluecoats, seemed to Soapy the essence of things desirable.
Ambisi musim dingin Soapy tidaklah setinggi itu. Di dalamnya tak ada pertimbangan tentang pelayaran Mediterania, tentang langit selatan yang meninabobokkan yang melayang-layang di Teluk Vesuvius. Tiga bulan di Pulau itulah yang didambakan jiwanya. Tiga bulan makan dan tidur yang terjamin serta ditemani orang-orang yang menyenangkan, aman dari angin utara dan seragam biru, tampak bagi Soapy sebagai inti dari segala yang diinginkan.
For years the hospitable Blackwell’s had been his winter quarters. Just as his more fortunate fellow New Yorkers had bought their tickets to Palm Beach and the Riviera each winter, so Soapy had made his humble arrangements for his annual hegira to the Island. And now the time was come.
Selama bertahun-tahun, Blackwell's yang ramah itu telah menjadi tempat musim dinginnya. Sama seperti tetangga-tetangga New York-nya yang lebih beruntung yang membeli tiket ke Palm Beach dan Riviera setiap musim dingin, begitu pula Soapy telah membuat persiapan sederhananya sendiri untuk hijrah tahunannya ke Pulau itu. Dan kini waktunya telah tiba.
On the previous night three Sabbath newspapers, distributed beneath his coat, about his ankles and over his lap, had failed to repulse the cold as he slept on his bench near the spurting fountain in the ancient square. So the Island loomed big and timely in Soapy’s mind. He scorned the provisions made in the name of charity for the city’s dependents. In Soapy’s opinion the Law was more benign than Philanthropy.
Malam sebelumnya, tiga koran Minggu, yang disebar di bawah mantelnya, di sekitar pergelangan kakinya dan di atas pangkuannya, gagal menahan hawa dingin ketika ia tidur di bangkunya di dekat air mancur yang memancar di alun-alun tua itu. Maka Pulau itu pun membayangi besar dan tepat waktu dalam benak Soapy. Ia memandang rendah tunjangan-tunjangan yang disediakan atas nama amal bagi warga kota yang bergantung padanya. Menurut Soapy, Hukum lebih baik hati daripada Filantropi.
There was an endless round of institutions, municipal and eleemosynary, on which he might set out and receive lodging and food accordant with the simple life. But to one of Soapy’s proud spirit the gifts of charity are encumbered. If not in coin you must pay in humiliation of spirit for every benefit received at the hands of philanthropy. As Caesar had his Brutus, every bed of charity must have its toll of a bath, every loaf of bread its compensation of a private and personal inquisition. Wherefore it is better to be a guest of the law, which though conducted by rules, does not meddle unduly with a gentleman’s private affairs.
Ada rangkaian tak berujung dari lembaga-lembaga, kotamadya maupun amal, tempat ia bisa berangkat dan menerima penginapan serta makanan yang sesuai dengan hidup sederhana. Tetapi bagi seseorang dengan jiwa yang bangga seperti Soapy, pemberian amal itu bersyarat. Jika bukan dengan uang, kau harus membayar dengan penghinaan jiwa untuk setiap manfaat yang diterima dari tangan filantropi. Sebagaimana Caesar punya Brutus, setiap ranjang amal harus memiliki upetinya berupa mandi, setiap roti kompensasinya berupa introgasi pribadi yang mengusik. Karena itu lebih baik menjadi tamu hukum, yang meski dijalankan dengan aturan, tak terlalu mencampuri urusan pribadi seorang pria terhormat.
Soapy, having decided to go to the Island, at once set about accomplishing his desire. There were many easy ways of doing this. The pleasantest was to dine luxuriously at some expensive restaurant; and then, after declaring insolvency, be handed over quietly and without uproar to a policeman. An accommodating magistrate would do the rest.
Soapy, setelah memutuskan untuk pergi ke Pulau itu, segera bersiasat mewujudkan keinginannya. Ada banyak cara mudah untuk melakukannya. Yang paling menyenangkan adalah bersantap mewah di sebuah restoran mahal; dan kemudian, setelah menyatakan tak mampu membayar, diserahkan dengan tenang dan tanpa keributan kepada seorang polisi. Seorang hakim yang kooperatif akan mengurus sisanya.
Soapy left his bench and strolled out of the square and across the level sea of asphalt, where Broadway and Fifth Avenue flow together. Up Broadway he turned, and halted at a glittering café, where are gathered together nightly the choicest products of the grape, the silkworm and the protoplasm.
Soapy meninggalkan bangkunya dan berjalan-jalan keluar dari alun-alun itu dan menyeberangi lautan aspal yang datar, tempat Broadway dan Fifth Avenue mengalir bersama. Ia berbelok menyusuri Broadway, dan berhenti di sebuah kafe yang berkilauan, tempat berkumpulnya setiap malam produk-produk pilihan dari anggur, ulat sutra, dan protoplasma.
Soapy had confidence in himself from the lowest button of his vest upward. He was shaven, and his coat was decent and his neat black, ready-tied four-in-hand had been presented to him by a lady missionary on Thanksgiving Day. If he could reach a table in the restaurant unsuspected success would be his. The portion of him that would show above the table would raise no doubt in the waiter’s mind.
Soapy percaya diri dari kancing terbawah rompinya ke atas. Ia sudah bercukur, mantelnya pantas, dan dasi hitam rapi yang sudah terikat itu diberikan kepadanya oleh seorang misionaris wanita pada Hari Thanksgiving. Jika ia bisa mencapai sebuah meja di restoran itu tanpa dicurigai, keberhasilan akan menjadi miliknya. Bagian dari dirinya yang akan terlihat di atas meja tak akan menimbulkan keraguan di benak pelayan.
A roasted mallard duck, thought Soapy, would be about the thing—with a bottle of Chablis, and then Camembert, a demi-tasse and a cigar. One dollar for the cigar would be enough. The total would not be so high as to call forth any supreme manifestation of revenge from the café management; and yet the meat would leave him filled and happy for the journey to his winter refuge.
Bebek liar panggang, pikir Soapy, akan menjadi pilihan yang tepat—dengan sebotol Chablis, lalu keju Camembert, secangkir kopi kecil, dan sebatang cerutu. Satu dolar untuk cerutu sudah cukup. Totalnya tak akan begitu tinggi hingga memancing balas dendam besar dari pihak manajemen kafe; namun makanan itu akan membuatnya kenyang dan bahagia untuk perjalanan menuju tempat perlindungan musim dinginnya.
But as Soapy set foot inside the restaurant door the head waiter’s eye fell upon his frayed trousers and decadent shoes. Strong and ready hands turned him about and conveyed him in silence and haste to the sidewalk and averted the ignoble fate of the menaced mallard.
Namun begitu Soapy melangkahkan kaki masuk ke pintu restoran, mata kepala pelayan itu jatuh pada celananya yang lusuh dan sepatunya yang usang. Tangan-tangan yang kuat dan sigap memutar tubuhnya dan membawanya dengan diam dan tergesa ke trotoar, menghindarkan nasib hina yang mengancam bebek liar itu.
Soapy turned off Broadway. It seemed that his route to the coveted island was not to be an epicurean one. Some other way of entering limbo must be thought of.
Soapy berbelok meninggalkan Broadway. Tampaknya jalannya menuju pulau yang didambakannya itu tak akan berjalan mulus seperti seorang penikmat kuliner. Cara lain untuk memasuki alam neraka itu harus dipikirkan.
At a corner of Sixth Avenue electric lights and cunningly displayed wares behind plate-glass made a shop window conspicuous. Soapy took a cobblestone and dashed it through the glass. People came running around the corner, a policeman in the lead. Soapy stood still, with his hands in his pockets, and smiled at the sight of brass buttons.
Di sebuah sudut Sixth Avenue, lampu-lampu listrik dan barang dagangan yang dipajang dengan cerdik di balik kaca tebal membuat jendela sebuah toko menonjol. Soapy mengambil sebuah batu jalanan dan melemparkannya menembus kaca itu. Orang-orang berlarian mengelilingi sudut jalan, dipimpin seorang polisi. Soapy berdiri diam, dengan tangan di sakunya, dan tersenyum melihat kancing-kancing kuningan itu.
“Where’s the man that done that?” inquired the officer excitedly.
“Mana orang yang melakukan itu?” tanya sang petugas dengan bersemangat.
“Don’t you figure out that I might have had something to do with it?” said Soapy, not without sarcasm, but friendly, as one greets good fortune.
“Tidakkah kau menduga aku mungkin ada hubungannya dengan itu?” kata Soapy, tak tanpa sindiran, tetapi ramah, seperti orang menyambut keberuntungan baik.
The policeman’s mind refused to accept Soapy even as a clue. Men who smash windows do not remain to parley with the law’s minions. They take to their heels. The policeman saw a man half way down the block running to catch a car. With drawn club he joined in the pursuit. Soapy, with disgust in his heart, loafed along, twice unsuccessful.
Pikiran sang polisi menolak menerima Soapy bahkan sebagai petunjuk. Orang-orang yang menghancurkan jendela tak akan berdiam diri berbincang dengan abdi hukum. Mereka lari secepat kaki mereka bisa. Sang polisi melihat seorang pria di tengah blok itu berlari mengejar sebuah trem. Dengan tongkat terhunus ia ikut mengejar. Soapy, dengan jijik di hatinya, berjalan santai, dua kali gagal.
On the opposite side of the street was a restaurant of no great pretensions. It catered to large appetites and modest purses. Its crockery and atmosphere were thick; its soup and napery thin. Into this place Soapy took his accusive shoes and telltale trousers without challenge. At a table he sat and consumed beefsteak, flapjacks, doughnuts and pie. And then to the waiter he betrayed the fact that the minutest coin and himself were strangers.
Di seberang jalan ada sebuah restoran yang tidak terlalu mentereng. Restoran itu melayani selera besar dengan kantong yang sederhana. Piring dan suasananya kasar; sup dan taplak mejanya tipis. Ke tempat ini Soapy membawa sepatu yang menuduh dan celana yang mengkhianatinya tanpa hambatan. Di sebuah meja ia duduk dan menghabiskan steak, panekuk, donat, dan pai. Dan kemudian kepada pelayan itu ia membeberkan fakta bahwa uang receh sekecil apa pun dan dirinya adalah orang asing satu sama lain.
“Now, get busy and call a cop,” said Soapy. “And don’t keep a gentleman waiting.”
“Nah, cepat panggilkan polisi,” kata Soapy. “Dan jangan biarkan seorang tuan menunggu.”
“No cop for youse,” said the waiter, with a voice like butter cakes and an eye like the cherry in a Manhattan cocktail. “Hey, Con!”
“Tak ada polisi untukmu,” kata pelayan itu, dengan suara semanis kue mentega dan mata seperti ceri di dalam koktail Manhattan. “Hei, Con!”
Neatly upon his left ear on the callous pavement two waiters pitched Soapy. He arose, joint by joint, as a carpenter’s rule opens, and beat the dust from his clothes. Arrest seemed but a rosy dream. The Island seemed very far away. A policeman who stood before a drug store two doors away laughed and walked down the street.
Dengan rapi jatuh di telinga kirinya di trotoar yang keras, dua pelayan itu melemparkan Soapy. Ia bangkit, sendi demi sendi, seperti penggaris lipat tukang kayu yang terbuka, lalu mengibaskan debu dari pakaiannya. Penangkapan tampak hanya seperti mimpi indah. Pulau itu tampak sangat jauh. Seorang polisi yang berdiri di depan toko obat dua pintu dari sana tertawa dan berjalan menyusuri jalan.
Five blocks Soapy travelled before his courage permitted him to woo capture again. This time the opportunity presented what he fatuously termed to himself a “cinch.” A young woman of a modest and pleasing guise was standing before a show window gazing with sprightly interest at its display of shaving mugs and inkstands, and two yards from the window a large policeman of severe demeanour leaned against a water plug.
Lima blok Soapy berjalan sebelum keberaniannya mengizinkannya untuk mencoba tertangkap lagi. Kali ini kesempatan itu menampilkan apa yang ia sebut sendiri dengan bodohnya sebagai “pasti berhasil”. Seorang wanita muda berpenampilan sederhana dan menyenangkan berdiri di depan jendela pajangan, menatap dengan minat yang riang pada pajangan mug cukur dan tempat tinta, dan dua meter dari jendela itu seorang polisi besar berwajah tegas bersandar pada keran air.
It was Soapy’s design to assume the role of the despicable and execrated “masher.” The refined and elegant appearance of his victim and the contiguity of the conscientious cop encouraged him to believe that he would soon feel the pleasant official clutch upon his arm that would insure his winter quarters on the right little, tight little isle.
Rencana Soapy adalah mengambil peran seorang “penggoda” yang hina dan terkutuk. Penampilan yang halus dan anggun dari korbannya serta kedekatan polisi yang penuh tanggung jawab itu membuatnya yakin bahwa ia akan segera merasakan cengkeraman resmi yang menyenangkan pada lengannya, yang akan menjamin tempat tinggal musim dinginnya di pulau kecil yang aman dan terjaga itu.
Soapy straightened the lady missionary’s ready-made tie, dragged his shrinking cuffs into the open, set his hat at a killing cant and sidled toward the young woman. He made eyes at her, was taken with sudden coughs and “hems,” smiled, smirked and went brazenly through the impudent and contemptible litany of the “masher.” With half an eye Soapy saw that the policeman was watching him fixedly. The young woman moved away a few steps, and again bestowed her absorbed attention upon the shaving mugs. Soapy followed, boldly stepping to her side, raised his hat and said:
Soapy merapikan dasi buatan misionaris wanita itu, menarik keluar manset yang menciut, memasang topinya dengan sudut yang menawan, dan berjalan menyamping ke arah wanita muda itu. Ia melirik-lirik ke arahnya, tiba-tiba batuk dan berdehem, tersenyum, menyeringai, dan dengan lancang menjalani seluruh ritual keji dan terkutuk seorang “penggoda”. Dengan sudut mata, Soapy melihat polisi itu mengawasinya dengan tajam. Wanita muda itu melangkah beberapa langkah menjauh, dan kembali mengarahkan perhatiannya yang tekun pada mug-mug cukur itu. Soapy mengikutinya, dengan berani melangkah ke sisinya, mengangkat topinya dan berkata:
“Ah there, Bedelia! Don’t you want to come and play in my yard?”
“Ah, di situ, Bedelia! Tidakkah kau mau datang bermain di halamanku?”
The policeman was still looking. The persecuted young woman had but to beckon a finger and Soapy would be practically en route for his insular haven. Already he imagined he could feel the cozy warmth of the station-house. The young woman faced him and, stretching out a hand, caught Soapy’s coat sleeve.
Sang polisi masih melihat. Wanita muda yang teraniaya itu hanya perlu menggerakkan jarinya dan Soapy akan praktis dalam perjalanan menuju surga kepulauannya. Sudah ia bayangkan bisa merasakan kehangatan nyaman kantor polisi. Wanita muda itu menghadapnya dan, mengulurkan tangan, menangkap lengan mantel Soapy.
“Sure, Mike,” she said joyfully, “if you’ll blow me to a pail of suds. I’d have spoke to you sooner, but the cop was watching.”
“Tentu, Mike,” katanya dengan gembira, “kalau kau mau mentraktirku seember bir. Aku sudah mau bicara padamu lebih awal, tapi polisi itu mengawasi.”
With the young woman playing the clinging ivy to his oak Soapy walked past the policeman overcome with gloom. He seemed doomed to liberty.
Dengan wanita muda itu bermain sebagai tanaman rambat yang melekat pada pohon eknya, Soapy berjalan melewati polisi itu, diliputi kesuraman. Ia tampaknya ditakdirkan untuk bebas.
At the next corner he shook off his companion and ran. He halted in the district where by night are found the lightest streets, hearts, vows and librettos. Women in furs and men in greatcoats moved gaily in the wintry air. A sudden fear seized Soapy that some dreadful enchantment had rendered him immune to arrest. The thought brought a little of panic upon it, and when he came upon another policeman lounging grandly in front of a transplendent theatre he caught at the immediate straw of “disorderly conduct.”
Di sudut berikutnya ia melepaskan diri dari temannya dan berlari. Ia berhenti di distrik tempat pada malam hari ditemukan jalan-jalan, hati-hati, sumpah-sumpah, dan libretto yang paling ringan. Wanita-wanita berbulu dan pria-pria berjas panjang bergerak riang di udara musim dingin. Ketakutan tiba-tiba mencengkeram Soapy bahwa semacam mantra mengerikan telah membuatnya kebal terhadap penangkapan. Pikiran itu membawa sedikit kepanikan, dan ketika ia bertemu polisi lain yang bersandar dengan angkuh di depan sebuah teater yang gemerlap, ia meraih jerami terdekat berupa “perilaku tak tertib”.
On the sidewalk Soapy began to yell drunken gibberish at the top of his harsh voice. He danced, howled, raved and otherwise disturbed the welkin.
Di trotoar, Soapy mulai berteriak omong kosong mabuk sekeras-kerasnya dengan suara serak. Ia menari, melolong, mengoceh, dan dengan cara lain mengganggu langit.
The policeman twirled his club, turned his back to Soapy and remarked to a citizen.
Sang polisi memutar tongkatnya, membelakangi Soapy dan berkata kepada seorang warga.
“’Tis one of them Yale lads celebratin’ the goose egg they give to the Hartford College. Noisy; but no harm. We’ve instructions to lave them be.”
“Itu salah satu anak muda Yale yang merayakan telur angsa yang mereka beri ke Hartford College. Berisik; tapi tak berbahaya. Kami diperintahkan membiarkan mereka.”
Disconsolate, Soapy ceased his unavailing racket. Would never a policeman lay hands on him? In his fancy the Island seemed an unattainable Arcadia. He buttoned his thin coat against the chilling wind.
Putus asa, Soapy menghentikan kegaduhan yang sia-sia itu. Apakah tak akan pernah ada polisi yang menyentuhnya? Dalam angannya, Pulau itu tampak sebagai Arcadia yang tak terjangkau. Ia mengancingkan mantel tipisnya melawan angin yang dingin.
In a cigar store he saw a well-dressed man lighting a cigar at a swinging light. His silk umbrella he had set by the door on entering. Soapy stepped inside, secured the umbrella and sauntered off with it slowly. The man at the cigar light followed hastily.
Di sebuah toko cerutu ia melihat seorang pria berpakaian rapi menyalakan cerutu di dekat lampu gantung yang berayun. Payung sutra miliknya telah ia letakkan di dekat pintu ketika masuk. Soapy melangkah masuk, mengambil payung itu, dan berjalan santai membawanya pergi perlahan. Pria di dekat lampu cerutu itu segera mengikutinya.
“My umbrella,” he said, sternly.
“Payungku,” katanya, tegas.
“Oh, is it?” sneered Soapy, adding insult to petit larceny. “Well, why don’t you call a policeman? I took it. Your umbrella! Why don’t you call a cop? There stands one on the corner.”
“Oh, benarkah?” ejek Soapy, menambahkan hinaan pada pencurian kecil itu. “Nah, kenapa kau tak panggil polisi? Aku mengambilnya. Payungmu! Kenapa kau tak panggil polisi? Ada satu berdiri di sudut sana.”
The umbrella owner slowed his steps. Soapy did likewise, with a presentiment that luck would again run against him. The policeman looked at the two curiously.
Sang pemilik payung memperlambat langkahnya. Soapy melakukan hal yang sama, dengan firasat bahwa keberuntungan akan kembali melawannya. Sang polisi memandang keduanya dengan penasaran.
“Of course,” said the umbrella man—“that is—well, you know how these mistakes occur—I—if it’s your umbrella I hope you’ll excuse me—I picked it up this morning in a restaurant—If you recognise it as yours, why—I hope you’ll—”
“Tentu saja,” kata si pria pemilik payung—“maksudku—yah, kau tahu bagaimana kesalahan semacam ini bisa terjadi—aku—kalau itu payungmu, kuharap kau memaafkanku—aku menemukannya pagi ini di sebuah restoran—kalau kau mengenalinya sebagai milikmu, ya—kuharap kau—”
“Of course it’s mine,” said Soapy, viciously.
“Tentu saja itu milikku,” kata Soapy, dengan garang.
The ex-umbrella man retreated. The policeman hurried to assist a tall blonde in an opera cloak across the street in front of a street car that was approaching two blocks away.
Bekas pemilik payung itu mundur. Sang polisi bergegas membantu seorang wanita pirang tinggi berjubah opera menyeberang jalan di depan sebuah trem yang mendekat dua blok jauhnya.
Soapy walked eastward through a street damaged by improvements. He hurled the umbrella wrathfully into an excavation. He muttered against the men who wear helmets and carry clubs. Because he wanted to fall into their clutches, they seemed to regard him as a king who could do no wrong.
Soapy berjalan ke timur melewati sebuah jalan yang rusak oleh perbaikan. Ia melemparkan payung itu dengan marah ke dalam sebuah galian. Ia menggerutu terhadap orang-orang yang memakai helm dan membawa tongkat. Karena ia ingin jatuh ke dalam cengkeraman mereka, mereka tampaknya menganggapnya sebagai seorang raja yang tak bisa berbuat salah.
At length Soapy reached one of the avenues to the east where the glitter and turmoil was but faint. He set his face down this toward Madison Square, for the homing instinct survives even when the home is a park bench.
Akhirnya Soapy mencapai salah satu avenue di sebelah timur tempat kilau dan hiruk-pikuknya samar. Ia mengarahkan wajahnya ke bawah menuju Madison Square, sebab naluri pulang bertahan bahkan ketika rumah itu hanyalah sebuah bangku taman.
But on an unusually quiet corner Soapy came to a standstill. Here was an old church, quaint and rambling and gabled. Through one violet-stained window a soft light glowed, where, no doubt, the organist loitered over the keys, making sure of his mastery of the coming Sabbath anthem. For there drifted out to Soapy’s ears sweet music that caught and held him transfixed against the convolutions of the iron fence.
Namun di sebuah sudut yang tak biasanya sepi, Soapy berhenti mendadak. Di sana ada sebuah gereja tua, unik dan bergaya lama dengan atap berpelana. Melalui satu jendela berwarna ungu, cahaya lembut menyala, tempat, tanpa diragukan, sang pemain organ berlama-lama di depan tuts-tutsnya, memastikan penguasaannya atas nyanyian pujian Minggu yang akan datang. Sebab mengalir ke telinga Soapy musik manis yang menangkap dan menahannya terpaku di depan lekukan pagar besi itu.
The moon was above, lustrous and serene; vehicles and pedestrians were few; sparrows twittered sleepily in the eaves—for a little while the scene might have been a country churchyard. And the anthem that the organist played cemented Soapy to the iron fence, for he had known it well in the days when his life contained such things as mothers and roses and ambitions and friends and immaculate thoughts and collars.
Bulan berada di atas, bercahaya dan tenang; kendaraan dan pejalan kaki jarang; burung-burung pipit berkicau mengantuk di bawah atap—untuk sesaat pemandangan itu bisa saja menjadi halaman gereja pedesaan. Dan nyanyian pujian yang dimainkan sang pemain organ merekatkan Soapy pada pagar besi itu, sebab ia mengenalnya baik-baik di masa ketika hidupnya masih memiliki hal-hal seperti ibu dan mawar dan cita-cita dan teman-teman dan pikiran-pikiran serta kerah yang tak bercela.
The conjunction of Soapy’s receptive state of mind and the influences about the old church wrought a sudden and wonderful change in his soul. He viewed with swift horror the pit into which he had tumbled, the degraded days, unworthy desires, dead hopes, wrecked faculties and base motives that made up his existence.
Pertemuan antara keadaan pikiran Soapy yang mudah menerima dan pengaruh di sekitar gereja tua itu menghasilkan perubahan yang tiba-tiba dan luar biasa dalam jiwanya. Ia memandang dengan ngeri yang seketika lubang tempat ia telah terjatuh, hari-hari yang hina, hasrat-hasrat yang tak pantas, harapan-harapan yang mati, kemampuan-kemampuan yang hancur dan motif-motif rendah yang membentuk keberadaannya.
And also in a moment his heart responded thrillingly to this novel mood. An instantaneous and strong impulse moved him to battle with his desperate fate. He would pull himself out of the mire; he would make a man of himself again; he would conquer the evil that had taken possession of him. There was time; he was comparatively young yet; he would resurrect his old eager ambitions and pursue them without faltering. Those solemn but sweet organ notes had set up a revolution in him.
Dan juga dalam sekejap hatinya merespons dengan gemetar pada suasana baru ini. Dorongan yang seketika dan kuat menggerakkannya untuk melawan nasib putus asanya. Ia akan menarik dirinya keluar dari lumpur; ia akan menjadikan dirinya seorang pria lagi; ia akan menaklukkan kejahatan yang telah menguasainya. Masih ada waktu; ia masih relatif muda; ia akan menghidupkan kembali cita-cita lamanya yang bersemangat dan mengejarnya tanpa ragu. Nada-nada organ yang khidmat namun manis itu telah menciptakan sebuah revolusi dalam dirinya.
To-morrow he would go into the roaring downtown district and find work. A fur importer had once offered him a place as driver. He would find him to-morrow and ask for the position. He would be somebody in the world. He would—
Besok ia akan pergi ke distrik pusat kota yang riuh dan mencari pekerjaan. Seorang importir bulu pernah menawarinya posisi sebagai supir. Ia akan menemuinya besok dan meminta pekerjaan itu. Ia akan menjadi seseorang di dunia ini. Ia akan—
Soapy felt a hand laid on his arm. He looked quickly around into the broad face of a policeman.
Soapy merasakan sebuah tangan diletakkan di lengannya. Ia menoleh cepat ke wajah lebar seorang polisi.
“What are you doin’ here?” asked the officer.
“Kau sedang apa di sini?” tanya sang petugas.
“Nothin’,” said Soapy.
“Tak ada apa-apa,” kata Soapy.
“Then come along,” said the policeman.
“Kalau begitu ikut,” kata sang polisi.
“Three months on the Island,” said the Magistrate in the Police Court the next morning.
“Tiga bulan di Pulau itu,” kata Hakim di Pengadilan Polisi keesokan paginya.