Ricky of the Tuft (A. E. Johnson translation)
A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A brilliant but hideously ugly prince offers a beautiful, hopelessly foolish princess a magical bargain: all the wit she could wish for, if she promises to marry him within the year.
Once upon a time there was a queen who bore a son so ugly and misshapen that for some time it was doubtful if he would have human form at all. But a fairy who was present at his birth promised that he should have plenty of brains, and added that by virtue of the gift which she had just bestowed upon him he would be able to impart to the person whom he should love best the same degree of intelligence which he possessed himself.
Pada suatu masa hiduplah seorang ratu yang melahirkan seorang putra yang begitu buruk rupa dan cacat sehingga untuk beberapa waktu diragukan apakah ia akan memiliki bentuk manusia sama sekali. Tetapi seorang peri yang hadir saat kelahirannya berjanji bahwa ia akan memiliki banyak kecerdasan, dan menambahkan bahwa berkat anugerah yang baru saja ia berikan kepadanya, ia akan mampu memberikan kepada orang yang paling ia cintai tingkat kecerdasan yang sama dengan yang ia miliki sendiri.
This somewhat consoled the poor queen, who was greatly disappointed at having brought into the world such a hideous brat. And indeed, no sooner did the child begin to speak than his sayings proved to be full of shrewdness, while all that he did was somehow so clever that he charmed every one.
Ini agak menghibur sang ratu yang malang, yang sangat kecewa telah melahirkan ke dunia bayi seburuk itu. Dan memang, begitu anak itu mulai bicara, ucapan-ucapannya terbukti penuh kecerdikan, sementara semua yang ia lakukan entah bagaimana begitu cerdik sehingga memikat setiap orang.
I forgot to mention that when he was born he had a little tuft of hair upon his head. For this reason he was called Ricky of the Tuft, Ricky being his family name.
Aku lupa menyebutkan bahwa ketika ia lahir ia memiliki seberkas kecil rambut di kepalanya. Karena itulah ia dipanggil Ricky Berjambul, Ricky adalah nama keluarganya.
Some seven or eight years later the queen of a neighbouring kingdom gave birth to twin daughters. The first one to come into the world was more beautiful than the dawn, and the queen was so overjoyed that it was feared her great excitement might do her some harm. The same fairy who had assisted at the birth of Ricky of the Tuft was present, and, in order to moderate the transports of the queen she declared that this little princess would have no sense at all, and would be as stupid as she was beautiful.
Sekitar tujuh atau delapan tahun kemudian ratu dari sebuah kerajaan tetangga melahirkan putri kembar. Yang pertama lahir ke dunia lebih indah dari fajar, dan sang ratu begitu gembira sampai dikhawatirkan kegembiraan besarnya bisa membahayakan dirinya. Peri yang sama yang telah membantu kelahiran Ricky Berjambul hadir di sana, dan, untuk meredakan kegembiraan sang ratu, ia menyatakan bahwa putri kecil ini tak akan memiliki kecerdasan sama sekali, dan akan sebodoh ia cantik.
The queen was deeply mortified, and a moment or two later her chagrin became greater still, for the second daughter proved to be extremely ugly.
Sang ratu sangat terhina, dan sesaat kemudian kekecewaannya semakin besar, sebab putri kedua ternyata sangat buruk rupa.
'Do not be distressed, Madam,' said the fairy; 'your daughter shall be recompensed in another way. She shall have so much good sense that her lack of beauty will scarcely be noticed.'
'Jangan bersedih, Yang Mulia,' kata sang peri; 'putri Anda akan mendapat imbalan dengan cara lain. Ia akan memiliki begitu banyak akal budi sehingga kekurangan kecantikannya nyaris tak akan diperhatikan.'
'May Heaven grant it!' said the queen; 'but is there no means by which the elder, who is so beautiful, can be endowed with some intelligence?'
'Semoga Surga mengabulkannya!' kata sang ratu; 'tapi tidakkah ada cara agar putri sulung, yang begitu cantik, bisa dianugerahi sedikit kecerdasan?'
'In the matter of brains I can do nothing for her, Madam,' said the fairy, 'but as regards beauty I can do a great deal. As there is nothing I would not do to please you, I will bestow upon her the power of making beautiful any person who shall greatly please her.'
'Dalam hal akal budi aku tak bisa berbuat apa-apa untuknya, Yang Mulia,' kata sang peri, 'tapi dalam hal kecantikan aku bisa berbuat banyak. Karena tak ada yang tak akan kulakukan untuk menyenangkan Anda, aku akan menganugerahinya kekuatan untuk membuat cantik siapa pun yang sangat menyenangkan hatinya.'
As the two princesses grew up their perfections increased, and everywhere the beauty of the elder and the wit of the younger were the subject of common talk.
Seiring kedua putri itu tumbuh dewasa kesempurnaan mereka pun bertambah, dan di mana-mana kecantikan sang kakak dan kecerdasan sang adik menjadi bahan pembicaraan umum.
It is equally true that their defects also increased as they became older. The younger grew uglier every minute, and the elder daily became more stupid. Either she answered nothing at all when spoken to, or replied with some idiotic remark. At the same time she was so awkward that she could not set four china vases on the mantelpiece without breaking one of them, nor drink a glass of water without spilling half of it over her clothes.
Sama benarnya bahwa kekurangan mereka juga bertambah seiring bertambahnya usia. Sang adik menjadi semakin buruk rupa setiap menitnya, dan sang kakak setiap hari menjadi semakin bodoh. Ia tak menjawab sama sekali ketika diajak bicara, atau menjawab dengan ucapan yang bodoh. Pada saat yang sama ia begitu ceroboh sehingga ia tak bisa meletakkan empat vas porselen di rak perapian tanpa memecahkan salah satunya, atau minum segelas air tanpa menumpahkan setengahnya ke pakaiannya.
Now although the elder girl possessed the great advantage which beauty always confers upon youth, she was nevertheless outshone in almost all company by her younger sister. At first every one gathered round the beauty to see and admire her, but very soon they were all attracted by the graceful and easy conversation of the clever one. In a very short time the elder girl would be left entirely alone, while everybody clustered round her sister.
Nah meskipun gadis sulung itu memiliki keunggulan besar yang selalu diberikan kecantikan kepada seorang gadis muda, ia tetap saja terkalahkan di hampir semua pergaulan oleh adiknya. Mula-mula setiap orang berkumpul di sekitar sang cantik untuk melihat dan mengaguminya, tetapi tak lama semua orang tertarik oleh percakapan yang anggun dan mudah dari si cerdas. Dalam waktu yang sangat singkat gadis sulung itu akan ditinggalkan sepenuhnya sendirian, sementara semua orang berkumpul di sekitar adiknya.
The elder princess was not so stupid that she was not aware of this, and she would willingly have surrendered all her beauty for half her sister's cleverness. Sometimes she was ready to die of grief, for the queen, though a sensible woman, could not refrain from occasionally reproaching her with her stupidity.
Sang putri sulung tak begitu bodoh sehingga ia tak menyadari hal ini, dan ia rela menyerahkan semua kecantikannya demi separuh kecerdasan adiknya. Kadang-kadang ia hampir mati karena sedih, sebab sang ratu, meski wanita yang bijaksana, tak bisa menahan diri untuk sesekali menegurnya soal kebodohannya.
The princess had retired one day to a wood to bemoan her misfortune, when she saw approaching her an ugly little man, of very disagreeable appearance, but clad in magnificent attire.
Sang putri suatu hari mengasingkan diri ke sebuah hutan untuk meratapi nasib buruknya, ketika ia melihat seorang lelaki kecil buruk rupa mendekatinya, dengan penampilan yang sangat tak menyenangkan, tetapi mengenakan busana yang megah.
This was the young prince Ricky of the Tuft. He had fallen in love with her portrait, which was everywhere to be seen, and had left his father's kingdom in order to have the pleasure of seeing and talking to her.
Ini adalah pangeran muda Ricky Berjambul. Ia telah jatuh cinta dengan potretnya, yang terlihat di mana-mana, dan telah meninggalkan kerajaan ayahnya demi kesenangan bisa melihat dan berbicara dengannya.
Delighted to meet her thus alone, he approached with every mark of respect and politeness. But while he paid her the usual compliments he noticed that she was plunged in melancholy.
Senang bisa bertemu dengannya sendirian seperti ini, ia mendekat dengan segala tanda hormat dan kesopanan. Tetapi sementara ia memberikan pujian-pujian biasa kepadanya, ia menyadari bahwa ia sedang tenggelam dalam kemurungan.
'I cannot understand, madam,' he said, 'how any one with your beauty can be so sad as you appear. I can boast of having seen many fair ladies, and I declare that none of them could compare in beauty with you.'
'Aku tak bisa memahami, Nona,' katanya, 'bagaimana seseorang dengan kecantikanmu bisa sesedih yang tampak padamu. Aku bisa membanggakan diri telah melihat banyak wanita rupawan, dan aku nyatakan tak satu pun dari mereka bisa menandingi kecantikanmu.'
'It is very kind of you to say so, sir,' answered the princess; and stopped there, at a loss what to say further.
'Sungguh baik hati Anda mengatakan itu, Tuan,' jawab sang putri; dan berhenti di situ, tak tahu harus berkata apa lagi.
'Beauty,' said Ricky, 'is of such great advantage that everything else can be disregarded; and I do not see that the possessor of it can have anything much to grieve about.'
'Kecantikan,' kata Ricky, 'adalah keuntungan yang begitu besar sehingga segala hal lain bisa diabaikan; dan aku tak melihat bahwa pemiliknya bisa memiliki banyak hal untuk disedihkan.'
To this the princess replied:
Kepada ini sang putri menjawab:
'I would rather be as plain as you are and have some sense, than be as beautiful as I am and at the same time stupid.'
'Aku lebih suka sebiasa dirimu dan memiliki sedikit akal budi, daripada secantik diriku sekaligus bodoh.'
'Nothing more clearly displays good sense, madam, than a belief that one is not possessed of it. It follows, therefore, that the more one has, the more one fears it to be wanting.'
'Tak ada yang lebih jelas menunjukkan akal budi yang baik, Nona, selain keyakinan bahwa diri sendiri tak memilikinya. Maka, semakin banyak yang seseorang miliki, semakin ia takut hal itu kurang.'
'I am not sure about that,' said the princess; 'but I know only too well that I am very stupid, and this is the reason of the misery which is nearly killing me.'
'Aku tak yakin soal itu,' kata sang putri; 'tapi aku tahu terlalu baik bahwa aku sangat bodoh, dan inilah alasan kesengsaraan yang hampir membunuhku.'
'If that is all that troubles you, madam, I can easily put an end to your suffering.'
'Jika hanya itu yang mengganggumu, Nona, aku bisa dengan mudah mengakhiri penderitaanmu.'
'How will you manage that?' said the princess.
'Bagaimana kau bisa melakukan itu?' tanya sang putri.
'I am able, madam,' said Ricky of the Tuft, 'to bestow as much good sense as it is possible to possess on the person whom I love the most. You are that person, and it therefore rests with you to decide whether you will acquire so much intelligence. The only condition is that you shall consent to marry me.'
'Aku mampu, Nona,' kata Ricky Berjambul, 'menganugerahkan sebanyak mungkin akal budi yang bisa dimiliki kepada orang yang paling kucintai. Kaulah orang itu, dan karena itu ada padamu untuk memutuskan apakah kau akan memperoleh kecerdasan sebanyak itu. Satu-satunya syarat adalah kau harus setuju untuk menikahiku.'
The princess was dumbfounded, and remained silent.
Sang putri terperangah, dan tetap diam.
'I can see,' pursued Ricky, 'that this suggestion perplexes you, and I am not surprised. But I will give you a whole year to make up your mind to it.'
'Aku bisa lihat,' lanjut Ricky, 'bahwa tawaran ini membingungkanmu, dan aku tak heran. Tapi aku akan memberimu waktu satu tahun penuh untuk memantapkan hatimu.'
The princess had so little sense, and at the same time desired it so ardently, that she persuaded herself the end of this year would never come. So she accepted the offer which had been made to her. No sooner had she given her word to Ricky that she would marry him within one year from that very day, than she felt a complete change come over her. She found herself able to say all that she wished with the greatest ease, and to say it in an elegant, finished, and natural manner. She at once engaged Ricky in a brilliant and lengthy conversation, holding her own so well that Ricky feared he had given her a larger share of sense than he had retained for himself.
Sang putri memiliki begitu sedikit akal budi, dan pada saat yang sama begitu menginginkannya, sehingga ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa akhir tahun itu tak akan pernah datang. Maka ia menerima tawaran yang diberikan kepadanya. Begitu ia memberikan janjinya kepada Ricky bahwa ia akan menikahinya dalam waktu satu tahun sejak hari itu juga, ia merasakan sebuah perubahan total menyelimutinya. Ia mendapati dirinya mampu mengatakan semua yang ia inginkan dengan sangat mudah, dan mengatakannya dengan cara yang anggun, matang, dan alami. Ia segera melibatkan Ricky dalam percakapan yang cemerlang dan panjang, mempertahankan posisinya dengan sangat baik sehingga Ricky khawatir ia telah memberinya bagian akal budi yang lebih besar daripada yang ia simpan untuk dirinya sendiri.
On her return to the palace amazement reigned throughout the Court at such a sudden and extraordinary change. Whereas formerly they had been accustomed to hear her give vent to silly, pert remarks, they now heard her express herself sensibly and very wittily.
Sekembalinya ke istana, keterkejutan menyelimuti seluruh istana atas perubahan yang begitu mendadak dan luar biasa ini. Sementara sebelumnya mereka terbiasa mendengarnya melontarkan komentar-komentar bodoh dan lancang, kini mereka mendengarnya mengekspresikan diri dengan bijaksana dan sangat cerdas.
The entire Court was overjoyed. The only person not too pleased was the younger sister, for now that she had no longer the advantage over the elder in wit, she seemed nothing but a little fright in comparison.
Seluruh istana bersukacita. Satu-satunya orang yang tak terlalu senang adalah sang adik, sebab kini karena ia tak lagi punya keunggulan atas sang kakak dalam kecerdasan, ia tampak tak lebih dari seorang gadis kecil yang menakutkan dibandingkan dengannya.
The king himself often took her advice, and several times held his councils in her apartment.
Sang raja sendiri sering meminta nasihatnya, dan beberapa kali mengadakan pertemuan dewannya di kamarnya.
The news of this change spread abroad, and the princes of the neighbouring kingdoms made many attempts to captivate her. Almost all asked her in marriage. But she found none with enough sense, and so she listened to all without promising herself to any.
Kabar tentang perubahan ini tersebar luas, dan para pangeran dari kerajaan-kerajaan tetangga membuat banyak usaha untuk memikat hatinya. Hampir semua melamarnya untuk menikah. Tetapi ia tak menemukan satu pun yang punya cukup akal budi, jadi ia mendengarkan semuanya tanpa menjanjikan dirinya kepada siapa pun.
At last came one who was so powerful, so rich, so witty, and so handsome, that she could not help being somewhat attracted by him. Her father noticed this, and told her she could make her own choice of a husband: she had only to declare herself.
Akhirnya datanglah seseorang yang begitu berkuasa, begitu kaya, begitu cerdas, dan begitu tampan, sehingga ia tak bisa menahan diri untuk agak tertarik padanya. Ayahnya menyadari ini, dan memberitahunya bahwa ia bisa membuat pilihannya sendiri soal suami: ia hanya perlu menyatakan pilihannya.
Now the more sense one has, the more difficult it is to make up one's mind in an affair of this kind. After thanking her father, therefore, she asked for a little time to think it over.
Nah semakin banyak akal budi yang dimiliki seseorang, semakin sulit untuk memantapkan hati dalam urusan semacam ini. Setelah berterima kasih kepada ayahnya, karena itu, ia meminta sedikit waktu untuk memikirkannya.
In order to ponder quietly what she had better do she went to walk in a wood—the very one, as it happened, where she encountered Ricky of the Tuft.
Untuk merenungkan dengan tenang apa yang sebaiknya ia lakukan, ia pergi berjalan-jalan di sebuah hutan—hutan yang sama, kebetulan, tempat ia bertemu Ricky Berjambul.
While she walked, deep in thought, she heard beneath her feet a thudding sound, as though many people were running busily to and fro. Listening more attentively she heard voices. 'Bring me that boiler,' said one; then another—'Put some wood on that fire!'
Sementara ia berjalan, tenggelam dalam pikiran, ia mendengar di bawah kakinya sebuah suara berdebum, seolah banyak orang berlarian sibuk ke sana kemari. Mendengarkan lebih saksama ia mendengar suara-suara. 'Bawakan aku periuk itu,' kata salah satu; lalu yang lain—'Tambahkan kayu ke api itu!'
At that moment the ground opened, and she saw below what appeared to be a large kitchen full of cooks and scullions, and all the train of attendants which the preparation of a great banquet involves. A gang of some twenty or thirty spit-turners emerged and took up their positions round a very long table in a path in the wood. They all wore their cook's caps on one side, and with their basting implements in their hands they kept time together as they worked, to the lilt of a melodious song.
Pada saat itu tanah terbuka, dan ia melihat di bawah sana apa yang tampak seperti sebuah dapur besar penuh dengan juru masak dan pembantu dapur, dan seluruh rombongan pelayan yang terlibat dalam persiapan sebuah pesta besar. Sekelompok sekitar dua puluh atau tiga puluh pemutar pemanggang muncul dan mengambil posisi mereka mengelilingi sebuah meja yang sangat panjang di sebuah jalan setapak di hutan itu. Mereka semua mengenakan topi juru masak mereka miring ke satu sisi, dan dengan alat pengolesan mereka di tangan, mereka bekerja serentak, mengikuti irama sebuah lagu yang merdu.
The princess was astonished by this spectacle, and asked for whom their work was being done.
Sang putri terkejut oleh pemandangan ini, dan bertanya untuk siapa pekerjaan mereka ini dilakukan.
'For Prince Ricky of the Tuft, madam,' said the foreman of the gang; 'his wedding is to-morrow.'
'Untuk Pangeran Ricky Berjambul, Nona,' kata mandor rombongan itu; 'pernikahannya besok.'
At this the princess was more surprised than ever. In a flash she remembered that it was a year to the very day since she had promised to marry Prince Ricky of the Tuft, and was taken aback by the recollection. The reason she had forgotten was that when she made the promise she was still without sense, and with the acquisition of that intelligence which the prince had bestowed upon her, all memory of her former stupidities had been blotted out.
Mendengar ini sang putri lebih terkejut dari sebelumnya. Dalam sekejap ia teringat bahwa tepat setahun sejak hari itu ia berjanji akan menikahi Pangeran Ricky Berjambul, dan ia terkejut oleh ingatan itu. Alasan ia lupa adalah bahwa ketika ia membuat janji itu ia masih tanpa akal budi, dan dengan diperolehnya kecerdasan yang dianugerahkan sang pangeran kepadanya, semua ingatan tentang kebodohan-kebodohannya yang dulu telah terhapus.
She had not gone another thirty paces when Ricky of the Tuft appeared before her, gallant and resplendent, like a prince upon his wedding day.
Ia belum berjalan tiga puluh langkah lagi ketika Ricky Berjambul muncul di hadapannya, gagah dan berseri-seri, seperti seorang pangeran pada hari pernikahannya.
'As you see, madam,' he said, 'I keep my word to the minute. I do not doubt that you have come to keep yours, and by giving me your hand to make me the happiest of men.'
'Seperti yang kau lihat, Nona,' katanya, 'aku menepati janjiku sampai ke menitnya. Aku tak ragu bahwa kau datang untuk menepati janjimu, dan dengan memberikan tanganmu kepadaku membuatku menjadi lelaki paling bahagia.'
'I will be frank with you,' replied the princess. 'I have not yet made up my mind on the point, and I am afraid I shall never be able to take the decision you desire.'
'Aku akan berterus terang padamu,' jawab sang putri. 'Aku belum memantapkan hatiku soal ini, dan aku khawatir aku tak akan pernah bisa mengambil keputusan yang kau inginkan.'
'You astonish me, madam,' said Ricky of the Tuft.
'Kau mengejutkanku, Nona,' kata Ricky Berjambul.
'I can well believe it,' said the princess, 'and undoubtedly, if I had to deal with a clown, or a man who lacked good sense, I should feel myself very awkwardly situated. "A princess must keep her word," he would say, "and you must marry me because you promised to!" But I am speaking to a man of the world, of the greatest good sense, and I am sure that he will listen to reason.
'Aku bisa memahaminya,' kata sang putri, 'dan tanpa keraguan, jika aku harus berurusan dengan seorang badut, atau seorang lelaki yang kurang akal budi, aku pasti akan merasa berada dalam situasi yang sangat canggung. "Seorang putri harus menepati janjinya," katanya nanti, "dan kau harus menikahiku karena kau sudah berjanji!" Tapi aku sedang berbicara dengan seorang lelaki dunia, dengan akal budi terbesar, dan aku yakin ia akan mendengarkan akal sehat.
As you are aware, I could not make up my mind to marry you even when I was entirely without sense; how can you expect that to-day, possessing the intelligence you bestowed on me, which makes me still more difficult to please than formerly, I should take a decision which I could not take then? If you wished so much to marry me, you were very wrong to relieve me of my stupidity, and to let me see more clearly than I did.'
Seperti yang kau tahu, aku tak bisa memantapkan hatiku untuk menikahimu bahkan ketika aku sama sekali tanpa akal budi; bagaimana kau bisa mengharapkan bahwa hari ini, dengan memiliki kecerdasan yang kau anugerahkan padaku, yang membuatku semakin sulit disenangkan daripada sebelumnya, aku akan mengambil keputusan yang tak bisa kuambil saat itu? Jika kau begitu ingin menikahiku, kau sangat salah membebaskanku dari kebodohanku, dan membiarkanku melihat lebih jelas daripada sebelumnya.'
'If a man who lacked good sense,' replied Ricky of the Tuft, 'would be justified, as you have just said, in reproaching you for breaking your word, why do you expect, madam, that I should act differently where the happiness of my whole life is at stake? Is it reasonable that people who have sense should be treated worse than those who have none? Would you maintain that for a moment—you, who so markedly have sense, and desired so ardently to have it? But, pardon me, let us get to the facts. With the exception of my ugliness, is there anything about me which displeases you? Are you dissatisfied with my breeding, my brains, my disposition, or my manners?'
'Jika seorang lelaki yang kurang akal budi,' jawab Ricky Berjambul, 'akan dibenarkan, seperti yang baru saja kau katakan, untuk menegurmu karena melanggar janjimu, kenapa kau berharap, Nona, bahwa aku akan bertindak berbeda ketika kebahagiaan seluruh hidupku dipertaruhkan? Apakah masuk akal bahwa orang-orang yang memiliki akal budi harus diperlakukan lebih buruk daripada mereka yang tak memilikinya? Maukah kau mempertahankan itu sesaat pun—kau, yang begitu jelas memiliki akal budi, dan begitu ingin memilikinya? Tapi, maafkan aku, mari kita bicara fakta. Kecuali soal keburukrupaanku, adakah sesuatu tentang diriku yang tak kau sukai? Apakah kau tak puas dengan didikanku, akalku, wataku, atau sopan santunku?'
'In no way,' replied the princess; 'I like exceedingly all that you have displayed of the qualities you mention.'
'Sama sekali tidak,' jawab sang putri; 'aku sangat menyukai semua kualitas yang telah kau tunjukkan yang kau sebutkan itu.'
'In that case,' said Ricky of the Tuft, 'happiness will be mine, for it lies in your power to make me the most attractive of men.'
'Kalau begitu,' kata Ricky Berjambul, 'kebahagiaan akan menjadi milikku, sebab itu ada di dalam kekuasaanmu untuk menjadikanku pria yang paling menarik.'
'How can that be done?' asked the princess.
'Bagaimana itu bisa dilakukan?' tanya sang putri.
'It will happen of itself,' replied Ricky of the Tuft, 'if you love me well enough to wish that it be so. To remove your doubts, madam, let me tell you that the same fairy who on the day of my birth bestowed upon me the power of endowing with intelligence the woman of my choice, gave to you also the power of endowing with beauty the man whom you should love, and on whom you should wish to confer this favour.'
'Itu akan terjadi dengan sendirinya,' jawab Ricky Berjambul, 'jika kau mencintaiku cukup untuk menginginkannya demikian. Untuk menghilangkan keraguanmu, Nona, biarkan aku memberitahumu bahwa peri yang sama yang pada hari kelahiranku menganugerahiku kekuatan untuk memberi kecerdasan kepada wanita pilihanku, juga memberimu kekuatan untuk memberi kecantikan kepada lelaki yang kau cintai, dan kepada siapa kau ingin memberikan anugerah ini.'
'If that is so,' said the princess, 'I wish with all my heart that you may become the handsomest and most attractive prince in the world, and I give you without reserve the boon which it is mine to bestow.'
'Jika begitu,' kata sang putri, 'aku berharap dengan sepenuh hati agar kau menjadi pangeran paling tampan dan menarik di dunia, dan kuberikan padamu tanpa syarat berkat yang ada padaku untuk kuberikan.'
No sooner had the princess uttered these words than Ricky of the Tuft appeared before her eyes as the handsomest, most graceful and attractive man that she had ever set eyes on.
Belum lagi sang putri mengucapkan kata-kata ini, Ricky Berjambul muncul di hadapan matanya sebagai lelaki paling tampan, paling anggun, dan paling menarik yang pernah ia lihat.
Some people assert that this was not the work of fairy enchantment, but that love alone brought about the transformation. They say that the princess, as she mused upon her lover's constancy, upon his good sense, and his many admirable qualities of heart and head, grew blind to the deformity of his body and the ugliness of his face; that his hump back seemed no more than was natural in a man who could make the courtliest of bows, and that the dreadful limp which had formerly distressed her now betokened nothing more than a certain diffidence and charming deference of manner.
Beberapa orang menyatakan bahwa ini bukanlah hasil pesona peri, tetapi bahwa cinta semata yang menyebabkan transformasi ini. Mereka bilang, sang putri, ketika ia merenungkan kesetiaan kekasihnya, akal budinya, dan begitu banyak kualitas hati dan pikirannya yang mengagumkan, menjadi buta terhadap cacat tubuhnya dan keburukrupaan wajahnya; bahwa punggung bungkuknya tampak tak lebih dari sesuatu yang wajar bagi seorang lelaki yang bisa membungkuk hormat dengan begitu sopan, dan bahwa pincang mengerikan yang dulu menyusahkannya kini hanya menandakan sedikit kerendahan hati dan sikap hormat yang memesona.
They say further that she found his eyes shine all the brighter for their squint, and that this defect in them was to her but a sign of passionate love; while his great red nose she found nought but martial and heroic.
Mereka bilang lebih lanjut bahwa ia mendapati matanya bersinar lebih terang justru karena juling itu, dan bahwa cacat pada matanya itu baginya hanyalah tanda cinta yang penuh gairah; sementara hidung besarnya yang merah ia anggap tak lain hanyalah tanda gagah dan kepahlawanan.
However that may be, the princess promised to marry him on the spot, provided only that he could obtain the consent of her royal father.
Bagaimanapun itu, sang putri berjanji untuk menikahinya saat itu juga, asalkan ia bisa mendapatkan persetujuan dari ayahnya yang raja itu.
The king knew Ricky of the Tuft to be a prince both wise and witty, and on learning of his daughter's regard for him, he accepted him with pleasure as a son-in-law.
Sang raja mengenal Ricky Berjambul sebagai seorang pangeran yang bijaksana dan cerdas, dan setelah mengetahui perhatian putrinya terhadapnya, ia dengan senang hati menerimanya sebagai menantu.
The wedding took place upon the morrow, just as Ricky of the Tuft had foreseen, and in accordance with the arrangements he had long ago put in train.
Pernikahan itu berlangsung keesokan harinya, tepat seperti yang telah diperkirakan Ricky Berjambul, dan sesuai dengan persiapan yang telah lama ia atur.